Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia (AAJI) optimistis pendapatan premi industri asuransi jiwa masih memiliki ruang pertumbuhan pada tahun ini.

Optimisme ini muncul meskipun terdapat sejumlah tantangan makroekonomi dan geopolitik global.

>>> ADOR Turunkan Nilai Gugatan Ganti Rugi terhadap Danielle dan Min Hee Jin

Ketua Dewan Pengurus AAJI Albertus Wiroyo menyatakan keyakinan tersebut didorong oleh meningkatnya kesadaran masyarakat akan pentingnya perlindungan finansial.

Selain itu, produk asuransi yang kian terjangkau juga menjadi faktor pendorong.

"Kami berharap terus positif (pertumbuhan premi).

Sebab, kami lihat masyarakat makin paham bahwa asuransi jiwa itu bukan barang mewah yang hanya bisa dimiliki segmen tertentu saja," kata Albertus di Grha AAJI, Jakarta Selatan, pada Selasa (2/6/2026).

Ia menambahkan bahwa keterjangkauan harga produk asuransi saat ini menjadi motor penggerak perluasan pasar ke berbagai lapisan masyarakat.

"Preminya terjangkau sesuai dengan kebutuhan. Dengan demikian, asuransi perlu dimiliki oleh seluruh segmen, dari menengah, bawah, maupun atas," tuturnya.

>>> Timnas Yaman Lolos ke Piala Asia 2027 Usai Tekuk Lebanon 2-0

Berdasarkan data kinerja terbaru, AAJI mencatat pendapatan premi asuransi jiwa pada kuartal I-2026 mencapai Rp 47,27 triliun.

Angka tersebut mengalami kontraksi tipis sebesar 0,5 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Albertus menilai hal itu sebagai sinyal positif bahwa kebutuhan terhadap perlindungan finansial tetap relevan di tengah ketidakpastian.

Sementara itu, total pendapatan industri asuransi jiwa secara keseluruhan pada kuartal I-2026 tercatat Rp 47,63 triliun, atau terkontraksi 6 persen secara tahunan.

Penurunan total pendapatan ini disebabkan oleh fluktuasi pasar modal pada awal tahun yang menekan sektor hasil investasi.

>>> OJK Terbitkan Kebijakan Dukung Aturan Devisa Hasil Ekspor SDA

"Jadi, penurunan itu karena penurunan dari investasi," ucap Albertus.