Persiapan Timnas Iran menuju Piala Dunia 2026 terganggu oleh konflik bersenjata yang melanda negara mereka.

Situasi ini memecah konsentrasi para pemain yang harus membagi perhatian antara latihan dan perkembangan politik di tanah air.

>>> IHSG Ambles ke Level 5.637, Modal Asing Keluar Deras

Ketegangan geopolitik meningkat sejak akhir Februari setelah Iran mendapat serangan dari Amerika Serikat dan Israel. Meskipun sempat ada gencatan senjata, situasi tetap memanas hingga kini.

Dampak langsung dari konflik ini memaksa skuad Team Melli memindahkan pusat pelatihan ke Turki. Seluruh proses pengurusan dokumen dan visa dilakukan dari negara tersebut.

Masalah lain muncul terkait tempat menginap selama turnamen.

Rencana awal bermarkas di Tucson, Arizona dibatalkan karena Amerika Serikat menolak kehadiran skuad Iran untuk bermalam di wilayah mereka.

Sebagai solusi, Iran memindahkan penginapan ke Tijuana, Meksiko.

Skuad akan terbang ke AS hanya untuk bertanding selama fase grup dan segera kembali ke Meksiko setelah laga usai.

Peristiwa ini mencatat sejarah baru dalam Piala Dunia. Untuk pertama kalinya, negara penyelenggara terlibat dalam peperangan melawan salah satu tim peserta, menyulitkan posisi Iran.

Tekanan Mental Pemain

Gelandang Iran, Saeid Ezatolahi, mengakui kondisi psikologis tim sedang diuji. "Sejujurnya, ini tidak mudah.

>>> Syekh Nawawi Al-Bantani Membagi Ikhlas Menjadi Tiga Tingkatan

Tapi pada akhirnya...

ini akan sulit bagi kami karena pada saat yang sama, kami mengikuti berita di negara kami dan hal-hal politik, tentu saja, dapat memengaruhi pikiran pemain dan masyarakat," ujarnya.

Pemain lain, Mohammad Ghorbani, yang baru pertama kali merasakan atmosfer Piala Dunia, juga memberikan pandangannya.

"Memang benar bahwa kami sedang menghadapi kondisi khusus saat ini, tetapi kami adalah pemain sepak bola dan kita harus bermain, berlatih, dan mempersiapkan diri untuk kompetisi yang akan datang," katanya.