Ancaman Sentimen Pasar dan Kepanikan

Pelemahan yang menembus batas psikologis ini memicu volatilitas tinggi di pasar modal. IHSG jatuh ke level terendah hampir enam tahun, dan investor asing melakukan aksi jual.

>>> Bank Sentral India Tahan Suku Bunga Acuan di Level 5,25 Persen

Pergeseran ini dikhawatirkan memicu efek bola salju yang digerakkan oleh kepanikan pasar, bukan lagi refleksi fundamental ekonomi. Pelemahan rupiah bisa dipercepat oleh kepanikan dan perilaku ikut-ikutan pelaku pasar.

Mencegah Level Normal Baru

Otoritas moneter dituntut bertindak cepat untuk meredam ekspektasi liar. Josua menyarankan BI mencegah pasar membaca Rp18.000 sebagai level normal baru.

Jika tidak, eksportir bisa menahan devisa, importir mempercepat pembelian dolar, korporasi memperbesar lindung nilai, dan rumah tangga menambah permintaan dolar.

Secara fundamental, rupiah saat ini dinilai sudah terlampau murah.

REER Mei 2026 diperkirakan rupiah undervalued lebih dari 5%, dengan nilai wajar USD/IDR di bawah Rp17.000.

Namun, undervalued tidak berarti rupiah otomatis menguat dalam waktu dekat. Dalam periode tekanan pasar, kurs bisa menyimpang jauh dari nilai fundamental.

Rekomendasi Respons Berlapis

Langkah penanganan komprehensif dari Bank Indonesia, Kementerian Keuangan, hingga lembaga pengawas keuangan sangat dibutuhkan. Menurut Josua, respons terbaik adalah berlapis.

BI perlu memperkuat intervensi di pasar spot, DNDF, dan NDF luar negeri, menjaga SRBI tetap menarik, serta membeli SBN di pasar sekunder untuk mencegah lonjakan yield.

Kemenkeu perlu memberi kepastian bahwa defisit tetap terkendali, subsidi energi dikelola transparan, dan penerbitan SBN tidak dipaksakan saat pasar meminta bunga terlalu mahal.

>>> Sutradara Devil May Cry Isyaratkan Season 3 sebagai Penutup Trilogi

Pemerintah juga perlu menjelaskan kebijakan DHE SDA dan tata kelola ekspor agar tidak menimbulkan kesan kontrol berlebihan. OJK dan BEI perlu mempercepat reformasi pasar modal.