Nilai tukar rupiah kembali mengalami tekanan hebat hingga menyentuh posisi terendah sepanjang sejarah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada sesi perdagangan Jumat (5/6/2026).

Berdasarkan data pasar, mata uang Indonesia melemah ke angka Rp 18.040 per dolar AS dibandingkan penutupan hari sebelumnya di level Rp 18.020 per dolar AS.

>>> BNI Targetkan Bebas Emisi Karbon pada 2028 dan 2060

Kondisi ini menempatkan mata uang Garuda sebagai salah satu instrumen pembayaran dengan kinerja paling buruk di wilayah Asia sepanjang tahun ini.

Sejak awal tahun 2026, tingkat depresiasi rupiah terhadap dolar AS tercatat telah menembus kisaran 7,59%, yang memicu koreksi paling dalam di antara mata uang utama regional lainnya.

Selain rupiah, gejolak hebat juga menimpa won Korea Selatan yang merosot sebesar 1,05% menjadi 1.548,2 won per dolar AS.

Kemerosotan ini membawa won Korea Selatan ke titik paling rapuh sejak masa krisis finansial global tahun 2009.

Secara year-to-date, akumulasi pelemahan won Korea Selatan sudah mencapai sekitar 7,02% terhadap dolar AS.

Faktor utama penguatan dolar AS dipicu oleh melesatnya ketidakpastian global, konflik geopolitik di Timur Tengah, tingginya harga komoditas energi, serta ekspektasi kebijakan moneter ketat Federal Reserve.

Koreksi nilai tukar juga menjalar ke kawasan Asia Tenggara, di mana baht Thailand melemah 3,73% sepanjang tahun ini ke level 32,67 per dolar AS.

Peso Filipina ikut terdepresiasi sebesar 4,44% secara tahunan dan kini tertahan di posisi 61,534 per dolar AS.

>>> Mirra Andreeva dan Maja Chwalinska Bersaing di Final French Open 2026

Sementara untuk wilayah Asia Selatan, rupee India tercatat berada pada level 95,785 per dolar AS dengan penurunan kumulatif sebesar 6,18% sejak awal tahun.