Upaya tersebut berjalan seiring dengan komitmen regulator untuk memulihkan kepercayaan pasar. Kebijakan ini diambil setelah Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami tekanan tajam dalam beberapa waktu terakhir.

Pergerakan IHSG pada awal Juni ini terpantau sangat lesu.

Pelemahan yang terjadi selama tiga hari berturut-turut tersebut senada dengan data historis pergerakan pasar dalam 5 tahun terakhir.

Secara rata-rata, IHSG tercatat mengalami koreksi sebesar 0,88% selama perdagangan saham pada bulan Juni.

>>> My Royal Nemesis Episode 10 Sub Indo dan Spoiler serta Link Bukan LK21 tapi di Netflix: Cha Se Gye Tidak Rela Seo Ri Main Dalam Film Panas

Akumulasi penurunan sepanjang bulan ini bahkan mencapai 6,4% hingga menyentuh posisi 5.724 dengan fluktuasi yang tinggi.

Pelemahan indeks saham terjadi bersamaan dengan rilis data neraca perdagangan barang Indonesia. Nilai surplus perdagangan pada April 2026 mengalami penyempitan menjadi sebesar US$89,1 juta.

Angka tersebut merosot tajam jika dibandingkan dengan surplus pada Maret 2026 yang menembus US$3,32 miliar.

Realisasi surplus pada April ini juga berada di bawah proyeksi konsensus Bloomberg yang memperkirakan median sebesar US$1,31 miliar.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto sebelumnya sempat menyoroti minimnya perusahaan yang melantai di BEI pada kuartal I-2026.

Airlangga berharap target yang sudah masuk pipeline dapat segera dikejar.

"Mungkin dalam periode first quarter ini ketidakpastian tinggi, sehingga ini masih dalam pipeline," kata Airlangga saat membuka Program Investasi Terencana dan Berkala (PINTAR) Reksa Dana di Gedung BEI, Jakarta, Senin (27/4/2026).

Airlangga menilai pelaksanaan pencatatan saham perdana bagi perusahaan swasta bersifat krusial. Kehadiran emiten baru tersebut diharapkan mampu mendorong pertumbuhan indeks saham di masa depan.