Pasar saham Indonesia mengalami tekanan berat sejak Januari 2026. Sentimen negatif seperti kebijakan pemerintah, pelemahan rupiah, kenaikan suku bunga, dan penundaan tinjauan FTSE menjadi pemicu.

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ambles 15,9% pada Mei 2026. Saham pilihan UOB Kay Hian bahkan longsor 27,5%, underperform 12% dari IHSG.

>>> Sektor Manufaktur Tumbuh 9,78%, Topang Ekspor Indonesia Awal 2026

Tekanan pada Mei 2026 dipicu oleh FTSE Russell yang menunda full index re-ranking dan penambahan saham baru.

Kebijakan sentralisasi ekspor tiga komoditas pada 20 Mei 2026 juga memperburuk sentimen.

Bank Indonesia menaikkan BI-Rate 50 bps menjadi 5,25%, namun tidak mampu membendung pelemahan rupiah. Yield SRBI yang melampaui 6,9% juga tidak cukup menarik investor.

>>> Timnas Indonesia U-19 Tekuk Timor Leste 3-0 di Piala AFF U-19

Potensi Pemulihan dan Rekomendasi Saham

UOB Kay Hian melihat potensi pemulihan pada Juni 2026 berdasarkan siklus musiman. Biasanya pasar pulih 50% pada Juni dan 100% pada Juli-Agustus.

Beberapa agenda penting pada Juni 2026 antara lain pengumuman peringkat utang Indonesia oleh S&P, FOMC pertama di bawah Chairman The Fed Kevin Warsh, rebalancing FTSE, dan pengumuman kasta saham Indonesia oleh MSCI.

UOB Kay Hian merekomendasikan tujuh saham pilihan untuk Juni 2026: ASII (buy, target Rp7.100), BMRI (hold, Rp5.150), BULL (buy, Rp750), CMRY (buy, Rp6.400), DEWA (buy, Rp1.375), ELSA (buy, Rp1.450), dan INKP (buy, Rp15.700).

>>> Timnas Indonesia Hadapi Oman di SUGBK pada Laga FIFA Matchday

Potensi cuan besar terdapat pada BULL, DEWA, ELSA, dan INKP jika merujuk harga terakhir.