BI Intervensi Pasar Antisipasi Rupiah Tembus Rp 18.000
Bank Indonesia meningkatkan intensitas intervensi pasar untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah yang melemah hingga menembus level Rp 18.000 per dolar AS pada Kamis (4/6/2026).
Langkah penstabilan moneter ini diambil seiring meningkatnya tekanan geopolitik di Timur Tengah yang memicu kenaikan harga minyak global dan mendorong arus modal keluar dari negara berkembang.
>>> Inkindo DKI Jakarta Lantik Pengurus Baru Masa Bakti 2026-2030
Berdasarkan data Bloomberg, rupiah pada pasar spot exchange dibuka melemah 37 poin atau 0,21 persen ke level Rp 18.003 per dolar AS.
Sementara itu, indeks dolar AS turun ke posisi 99,445.
Faktor Internal dan Eksternal Tekan Rupiah
Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia, Destry Damayanti, menjelaskan bahwa selain faktor geopolitik, faktor internal berupa tingginya kebutuhan domestik untuk pembayaran utang luar negeri dan repatriasi dividen ikut menekan mata uang Garuda.
"Selain itu kebutuhan domestik masih cukup besar sesuai dengan pola repatriasi dividen dan pembayaran ULN (Utang Luar Negeri)," ungkap Destry dalam pernyataan resmi pada Kamis (4/6/2026).
Bank Indonesia memastikan cadangan devisa per akhir April 2026 masih aman pada angka 146,2 miliar dolar AS.
"Secara umum, pelemahan rupiah masih sejalan dengan regional, secara YTD melemah -7,44%.
Cadangan devisa tetap terjaga di level US$ 146,2 miliar pada akhir April 2026," kata Destry.
>>> Andorra Jamu Liechtenstein dalam Laga Persahabatan di Estadi de la FAF
Otoritas moneter menegaskan tetap mengawal pergerakan pasar melalui berbagai instrumen pro-market agar aset domestik tetap menarik bagi modal asing.
Operasi Pasar dan Strategi Jangka Panjang
Operasi pasar berkesinambungan dijalankan secara konsisten melalui transaksi Non-Deliverable Forward di pasar offshore, pasar domestik, serta pembelian SBN di pasar sekunder.
Langkah ini dibarengi komunikasi intensif bersama pelaku pasar dan korporasi.
"Koordinasi dan komunikasi dengan korporasi dan pelaku pasar lainnya terus dilakukan secara intensif," tutur Destry.
Sebagai strategi jangka panjang meredam volatilitas dolar AS, Bank Indonesia memperluas implementasi skema Local Currency Transaction (LCT) dengan beberapa negara mitra dagang utama seperti Tiongkok, Jepang, Malaysia, Thailand, Korea Selatan, dan Uni Emirat Arab.
"Diversifikasi transaksi perdagangan melalui skema LCT ini terus mengalami peningkatan di April 2026 mencapai sekitar US$ 22,7 miliar.
>>> Sugiono dan Mohamad Hasan Bahas Penguatan Ekonomi hingga Stabilitas Regional
Sedangkan transaksi LCT selama tahun 2026 mencapai US$ 25,7 miliar," tutup Destry.
Update Terbaru
Lima Catatan Penghargaan dan Penyelenggaraan Haji 2026
Jumat / 05-06-2026, 02:12 WIB
Pemerintah Naikkan HET Minyakita, Tunggu Harga CPO Stabil
Jumat / 05-06-2026, 02:07 WIB
Kadin Dorong Hilirisasi Hasil Hutan Bukan Kayu di Humbang Hasundutan
Jumat / 05-06-2026, 02:07 WIB
Prancis Uji Coba Lawan Pantai Gading Jelang Piala Dunia 2026
Jumat / 05-06-2026, 02:06 WIB
Subaru Tarik 65.000 Forester karena Sunroof Bisa Terbang Saat Melaju
Jumat / 05-06-2026, 02:04 WIB
Prancis Jamu Pantai Gading di Laga Uji Coba Jelang Piala Dunia 2026
Jumat / 05-06-2026, 02:04 WIB
PT Dairi Prima Mineral Bagikan 1.400 Bibit Pohon ke Petani di Dairi
Jumat / 05-06-2026, 02:02 WIB
DPR Perketat Pengawasan Tata Kelola Badan Gizi Nasional
Jumat / 05-06-2026, 02:02 WIB
Kementerian PU Akselerasi Pembangunan Jalan dan Jembatan di DOB Papua
Jumat / 05-06-2026, 02:01 WIB
OPPO dan Vivo Siapkan Kamera Saku Penantang DJI Osmo Pocket
Jumat / 05-06-2026, 02:00 WIB
Harga Emas Digital 4 Juni 2026 Melonjak Drastis, Ini Rinciannya
Jumat / 05-06-2026, 02:00 WIB
Luis de la Fuente Lakukan Rotasi Besar di Laga Uji Coba Spanyol vs Irak
Jumat / 05-06-2026, 01:57 WIB
Wojciech Fibak Puji Keberhasilan Maja Chwalińska di Roland Garros 2026
Jumat / 05-06-2026, 01:56 WIB
Harga Bitcoin Bangkit ke US$ 64.200 Usai Anjlok ke Level Terendah Empat Bulan
Jumat / 05-06-2026, 01:56 WIB






