Microsoft mengumumkan Project Solara, platform paling ambisius dalam sejarah antarmuka pengguna.

Proyek ini diperkenalkan di ajang Microsoft Build 2026 pada 2–3 Juni di Fort Mason Center, San Francisco.

>>> PLN Pasok Listrik 1,2 GW untuk Pusat Data BDx Indonesia

Project Solara dirancang khusus untuk menjalankan AI agent sebagai entitas cerdas yang memahami konteks secara mendalam.

Berbeda dengan Windows, Android, atau iOS yang berpusat pada aplikasi, Solara menyesuaikan antarmuka secara dinamis.

Pengguna masa depan tidak perlu lagi membuka aplikasi satu per satu. Cukup berdialog dengan agen AI untuk menyelesaikan tugas.

Konsep Chip-to-Cloud dan Perbedaan dengan Android

Platform ini mengusung konsep chip-to-cloud siap pakai. Microsoft menegaskan bahwa AI agent tidak cocok dipaksa masuk ke dalam struktur aplikasi tradisional yang statis.

Secara teknis, Project Solara dibangun di atas Android Open Source Project (AOSP). Namun, Microsoft menyebutnya sebagai Microsoft Device Ecosystem Platform, bukan Android pada umumnya.

Sistem ini mendukung integrasi langsung dengan Azure AI dan Microsoft 365. Lapisan keamanan enterprise memungkinkan perangkat bekerja lintas perangkat, dari meja kerja hingga wearable.

Dua Perangkat Konsep: Desktop Companion dan Wearable Agent

Microsoft memperlihatkan dua prototipe perangkat berbasis Solara. Pertama, Desktop Companion yang mirip Amazon Echo Show dengan kamera pengenal wajah untuk autentikasi instan.

Perangkat kedua adalah Wearable Agent seukuran kartu identitas yang dapat dikalungkan. Dilengkapi kamera mini dan sensor sidik jari untuk mobilitas tinggi.

Tenaga medis bisa mengakses data pasien hanya dengan tatap wajah dan sentuhan. Petugas gudang dapat memindai paket dan mengirim informasi pelacakan melalui perintah suara.

>>> Kamus Bahasa Minion: Arti Bello, Poopaye, dan Kosakata Lainnya