Rencana mengaktifkan kembali Bandara Adisutjipto untuk penerbangan komersial mendapat penolakan dari pengamat transportasi. Mereka menilai kebutuhan mobilitas udara di Yogyakarta sudah terpenuhi oleh Yogyakarta International Airport (YIA).

Alasan Penolakan

Pengamat Transportasi, Djoko Setijowarno, menilai reaktivasi tidak diperlukan karena sudah ada pengganti yang lebih baik.

>>> Belanda Takluk dari Aljazair di Laga Uji Coba, Alarm Jelang Piala Dunia 2026

Status Adisutjipto sebagai bandara enclave atau penggunaan bersama sipil dan militer menjadi kendala kompleks.

Jika ada kepentingan militer, penerbangan sipil harus dikalahkan. Keterbatasan ruang untuk pengembangan juga menghambat peningkatan kapasitas pelayanan dan landasan pacu.

Djoko mencontohkan, saat ada pesawat latih militer, penerbangan komersial tidak bisa masuk. Akses menuju YIA dinilai sudah baik dengan adanya kereta cepat dan rencana jalan tol.

>>> Bernardo Silva Tunda Keputusan Masa Depan hingga Piala Dunia 2026 Usai

Pandangan Berbeda dari Daerah

Bupati Sleman, Harda Kiswaya, melihat potensi ekonomi dari reaktivasi. Ia menilai pembukaan penerbangan komersial terbatas dapat meningkatkan kunjungan wisatawan.

Menurutnya, jalur cepat akan memudahkan akses masyarakat menuju Yogyakarta. Aktivitas ekonomi lokal, terutama UMKM, diharapkan tumbuh seiring dinamika sosial yang terjalin melalui konektivitas udara.

>>> Media Italia Puji Veda Ega, Sebut Jadi Pembalap Terbaik di Moto3 Catalunya 2026

Pemerintah disarankan fokus mengoptimalkan operasional dan aksesibilitas YIA daripada menghidupkan kembali Adisutjipto.