Selain itu, gangguan jalur distribusi di Selat Hormuz memicu ketidakpastian pasokan energi. Kebijakan suku bunga AS yang diperkirakan tetap tinggi juga menjadi faktor.

Kenaikan harga energi global memaksa kebutuhan dolar AS untuk impor meningkat tajam.

Harga minyak WTI berada di level US$94,58 per barel, sementara Brent mencapai US$96,72 per barel.

Dampak Geopolitik dan Kebijakan The Fed

Isu politik internasional turut memengaruhi volatilitas nilai tukar. Ketegangan AS-Iran terkait program pengayaan uranium menciptakan ketidakpastian di pasar keuangan global.

Potensi eskalasi konflik di Timur Tengah mengancam stabilitas pasokan energi. Investor cenderung mengalihkan aset ke safe haven, seperti dolar AS.

Akibatnya, permintaan terhadap dolar AS melonjak drastis. Hal ini melemahkan mata uang negara berkembang, termasuk Indonesia.

Kenaikan harga energi global diprediksi mengerek inflasi AS. The Fed kemungkinan akan mempertahankan suku bunga tinggi, bahkan berpotensi menaikkannya lagi tahun ini.

Proyeksi suku bunga AS yang tetap tinggi menjadi pukulan tambahan bagi rupiah. Selama dolar AS kuat dan suku bunga tinggi bertahan, tekanan terhadap rupiah diperkirakan berlanjut.

>>> Misteri Kematian Sekeluarga di Posong Temanggung, Polisi Tunggu Hasil Lab

Masyarakat dan pelaku usaha perlu mencermati pergerakan kurs di perbankan. Langkah strategis dari pemerintah dan Bank Indonesia dinantikan untuk meredam gejolak pasar uang.