Data tersebut menunjukkan tekanan pada neraca energi akibat kenaikan harga minyak dan pelemahan mata uang. Namun, Bahlil menegaskan indikator yang digunakan adalah rata-rata harga tahunan.

Ketahanan Anggaran Subsidi Negara

Bahlil memaparkan rata-rata ICP nasional sejak Januari hingga Mei 2026 masih berkisar USD 80-81 per barel. Angka ini jauh di bawah ambang batas kritis USD 100 per barel.

Dengan dasar tersebut, Menteri ESDM meyakini anggaran subsidi yang dialokasikan masih mencukupi. Ia optimis ketahanan fiskal Indonesia mampu menanggung beban subsidi hingga akhir 2026.

Pemerintah juga terus melakukan mitigasi agar konsumsi BBM subsidi tepat sasaran, salah satunya melalui pendaftaran kendaraan untuk QR Code di Jawa Bagian Barat.

Berikut perbandingan target dan realisasi ICP:

  • Januari-Mei 2026 (rata-rata): USD 80-81 per barel, harga BBM tetap
  • Mei 2026 (realisasi): USD 86 per barel, harga BBM tetap
  • April 2026 (puncak bulanan): USD 117,31 per barel, harga BBM tetap
  • Proyeksi 2027: USD 80 per barel, akan dievaluasi

Tabel tersebut menunjukkan meskipun sempat terjadi lonjakan pada April, rata-rata tahunan tetap di bawah pagu anggaran. Hal ini memberi ruang bagi pemerintah untuk melindungi harga bagi masyarakat.

>>> Vietnam Resmi Jadi Tuan Rumah VCT Pacific Stage 1 2026, Pertama di Asia Tenggara

Kementerian ESDM dan SKK Migas terus memantau pergerakan pasar global setiap hari. Dukungan sektor hulu migas dalam mencapai target produksi juga menjadi kunci stabilitas energi nasional.