Film horor "Backrooms" garapan Kane Parsons yang tayang di Korea pada 27 Mei lalu langsung menarik hampir 400.000 penonton di minggu pertama.

Film ini menduduki posisi kedua box office di tengah persaingan ketat dengan film-film blockbuster.

>>> MobSeka Season 2 Rilis Visual Kedua, Tayang 8 Juli

"Backrooms" mengisahkan ruang-ruang peralihan yang luas dan bernuansa nostalgia, lengkap dengan wallpaper berjamur dan dengung lampu neon.

Estetika liminalitas—perasaan berada di antara dua tujuan—berhasil menyentuh banyak penonton.

Fenomena Horor Liminal

Konsep Backrooms berasal dari unggahan di forum anonim pada 2019.

Ini adalah wajah dari horor liminal, subgenre modern yang berfokus pada ruang transisi di tempat-tempat familiar seperti hotel atau sekolah yang kosong tanpa orang.

Horor liminal meledak popularitasnya pada 2020 saat lockdown COVID-19 menciptakan pemandangan mal, sekolah, dan bandara yang sepi. Ketidakhadiran keramaian menimbulkan perasaan aneh dan salah.

Subgenre ini menyentuh ketakutan baru yang mengakar di benak generasi muda yang tumbuh di lingkungan perkotaan padat.

Ia menyinggung gagasan tentang pemandangan kota yang menindas tanpa alam, trauma masa kecil yang terpendam, dan kesendirian yang menekan.

Peta Backrooms Buatan Warga

Setelah film dirilis, sebuah peta buatan warga (crowdsourced) bernama "Backrooms Map" diluncurkan.

>>> The Apothecary Diaries: Palace Chronicles Tembus 200.000 Pre-Registrasi, Rilis Visual Baru Maomao

Peta ini memungkinkan penjelajah perkotaan untuk mengunjungi ruang-ruang liminal di Korea yang terasa sementara dan setengah terlupakan.

Di media sosial, konten tentang ruang liminal Korea terus bermunculan, mulai dari bagian stasiun kereta bawah tanah yang belum dikembangkan hingga bangunan kosong yang belum dihuni.

Korea, dengan modernisasinya yang cepat, memiliki banyak ruang yang menunggu tujuan.