Kondisi Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Putri Cempo di Solo kini sangat mengkhawatirkan. Lonjakan volume sampah harian membuat kapasitas penampungan semakin menipis.

Pemerintah Kota (Pemkot) Solo merespons situasi ini dengan menggandeng berbagai perguruan tinggi. Kerja sama ini bertujuan memperkuat gerakan pengurangan sampah dari sumbernya.

>>> Cara Mengaktifkan DANA Cicil 2026: Pinjaman Resmi, Cepat Cair

Transformasi Paradigma Pengelolaan Sampah

Wali Kota Solo, Respati Ardi, mengungkapkan volume timbulan sampah mencapai 300 hingga 400 ton per hari. Ia menegaskan metode konvensional tidak lagi relevan.

Pemerintah tidak bisa bergantung pada paradigma lama yang hanya fokus pada pengangkutan sampah. Sampah tidak cukup hanya dipindahkan ke tempat pembuangan akhir tanpa reduksi.

Peralihan dari sistem linear menuju sistem sirkular menjadi keharusan. Fokus utama kini harus dimulai dari hulu, sejak sampah dihasilkan masyarakat.

Pernyataan itu disampaikan Respati di hadapan pimpinan perguruan tinggi swasta di Balai Kota Solo pada Rabu, 3 Juni 2026.

Pola angkut-buang selama ini hanya memindahkan masalah.

Peran Perguruan Tinggi sebagai Agen Perubahan

Perguruan tinggi didorong menjadi motor penggerak utama dalam mengedukasi masyarakat. Prinsip 3R (Reduce, Reuse, Recycle) harus menjadi budaya baru.

Penerapan ramah lingkungan dimulai dari skala rumah tangga hingga lingkungan yang lebih luas. Sekolah, kampus, dan pusat usaha harus mengadopsi pengelolaan sampah yang bijak.

>>> Kurs Rupiah Melemah, Hartadinata Siapkan Strategi Terbaru Hadapi Dolar AS 2026

Pemerintah Kota menyusun regulasi, kebijakan, dan infrastruktur teknologi. Perguruan tinggi menjadi pusat penelitian, inovasi, dan edukasi eco-campus.

Masyarakat melakukan pemilahan sampah mandiri dari sumber rumah tangga. Dunia usaha menerapkan sistem sirkular dalam operasional dan pengelolaan limbah.