Angka ini dinilai tidak signifikan jika dibandingkan dengan total instrumen yang beredar di pasar uang.

>>> BPNT 2026 Tahap 2 Cair: Cek Syarat dan Jadwal di cekbansos.kemensos.go.id

Data di atas mempertegas bahwa perbankan negara lebih banyak memutar dananya ke sektor riil melalui kredit daripada menyimpannya di instrumen Bank Indonesia.

Strategi ini diambil untuk tetap mendukung roda perekonomian nasional agar tetap bergerak kencang.

Tantangan Kompetisi dengan Surat Berharga

Di sisi lain, Perhimpunan Bank Nasional (Perbanas) menyoroti adanya persaingan yang ketat antara penyaluran kredit dengan instrumen negara.

Wakil Ketua Perbanas, Nixon L. P.

Napitupulu, menyebut SRBI dan Surat Berharga Negara (SBN) sebagai kompetitor utama perbankan.

Persaingan ini terjadi karena SRBI dan SBN menawarkan imbal hasil atau bunga yang menarik dengan risiko yang sangat rendah.

Kondisi tersebut membuat perbankan cukup kesulitan dalam menarik minat debitur atau mengelola likuiditas secara kompetitif.

Nixon menyarankan agar pemerintah dan regulator mengatur standar suku bunga yang tepat untuk setiap instrumen surat utang.

Ia berharap keberadaan instrumen ini tidak menggerus atau menjadi "kanibal" bagi target pertumbuhan kredit bank.

Berdasarkan laporan terbaru Bank Indonesia, pertumbuhan kredit nasional pada April 2026 tercatat sebesar 9,98 persen secara tahunan.

>>> Jadwal dan Harga Tiket KA Argo Wilis Surabaya-Bandung Liburan Sekolah 2026

Sektor kredit investasi menjadi motor penggerak utama dalam capaian intermediasi perbankan tersebut.