Konsumsi ikan asin dan makanan yang diawetkan dengan garam kembali menjadi sorotan karena dikaitkan dengan peningkatan risiko kanker nasofaring.

Kanker ini menyerang nasofaring, yaitu bagian atas tenggorokan di belakang hidung.

>>> 30 Kota Paling Ramah Pejalan Kaki di Dunia 2026 Versi GuruWalk

Indonesia termasuk negara di Asia Tenggara dengan angka kejadian kanker nasofaring yang relatif tinggi. Penyakit ini juga banyak ditemukan di China Selatan, Afrika Utara, dan kawasan Arktik.

Hubungan Ikan Asin dan Kanker Nasofaring

Penyebab pasti kanker nasofaring hingga kini belum diketahui. Namun, sejumlah penelitian menunjukkan beberapa faktor risiko, salah satunya pola makan.

Ikan asin menjadi salah satu makanan yang paling sering dikaitkan dengan kanker nasofaring. Makanan ini dibuat melalui proses penggaraman dan pengawetan yang meningkatkan kadar garam.

Berbagai penelitian secara konsisten menemukan risiko kanker nasofaring lebih tinggi pada orang yang sering mengonsumsi ikan asin. Risiko tersebut meningkat seiring frekuensi dan lamanya konsumsi.

Hubungan tersebut lebih kuat jika kebiasaan mengonsumsi ikan asin dimulai sejak masa kanak-kanak hingga usia sekitar 10 tahun.

Peran Nitrosamin dan Virus Epstein-Barr

Ahli THT-KL Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga, Dr. dr. Achmad Chusnu Romdhoni, Sp. THT-KL, menjelaskan bahwa makanan yang diasinkan seperti ikan asin dan telur asin dapat menghasilkan nitrosamin.

Nitrosamin adalah senyawa karsinogen yang berpotensi memicu kanker.

"Nitrosamin mampu mengubah pertahanan tubuh yang awalnya baik-baik saja akhirnya menjadi tubuh itu rentan terhadap terjadinya kanker nasofaring," ujarnya.

Salah satu mekanisme yang diduga menghubungkan ikan asin dengan kanker nasofaring adalah terbentuknya senyawa N-nitroso di dalam tubuh.

Senyawa ini muncul akibat reaksi antara amina pada ikan dengan nitrat atau nitrit dari garam pengawet.