>>> Harta Karun Emas 1.200 Tahun Ditemukan di Jalur Haji Arab Saudi

Proses tersebut juga diduga berkaitan dengan aktivasi virus Epstein-Barr (EBV) yang telah lama diketahui memiliki hubungan erat dengan kanker nasofaring.

Paparan virus Epstein-Barr menjadi salah satu faktor pemicu utama penyakit ini.

Sekitar 80% orang dewasa di Asia diperkirakan pernah terpapar virus Epstein-Barr dalam kadar rendah.

Oleh karena itu, upaya pencegahan yang paling realistis adalah mengendalikan faktor risiko dari lingkungan dan gaya hidup.

Faktor Genetik dan Gejala yang Perlu Diwaspadai

Faktor genetik juga berperan dalam meningkatkan kerentanan seseorang terhadap kanker nasofaring. Namun, dr. Achmad menegaskan bahwa kanker nasofaring bukan penyakit yang diturunkan secara langsung.

"Kanker nasofaring bukan penyakit yang diturunkan. Tapi karena ada gen yang sama, maka yang bersangkutan memiliki kerentanan untuk terjadi kanker nasofaring.

Tapi apakah nanti pasti terjadi kanker nasofaring, jawabannya tidak," jelasnya.

Masyarakat diimbau untuk mewaspadai gejala kanker nasofaring, seperti benjolan di leher, hidung tersumbat, mimisan berulang, gangguan pendengaran, telinga berdenging, nyeri telinga, sakit kepala, serta kesulitan bernapas atau berbicara.

Jika mengalami keluhan tersebut, segera periksakan diri ke dokter.

Secara global, kanker nasofaring termasuk salah satu kanker yang paling banyak ditemukan di bidang THT-KL. Sekitar 60%-70% kasus kanker di area kepala dan leher merupakan kanker nasofaring.

>>> Davina Karamoy di Love and 10 Million Dollars: Tes DNA Palsu Terbongkar

Di Indonesia, angka kejadiannya pernah tercatat sekitar 6,2 kasus per 100.000 penduduk.