Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami tekanan berat pada perdagangan Rabu, 3 Juni 2026. Aksi jual masif oleh pelaku pasar membuat indeks saham domestik jatuh cukup dalam.

Hingga pukul 11.00 WIB, IHSG tercatat anjlok 4,01 persen atau turun 248,31 poin.

>>> Dadan Dicopot, Ekonom Ingatkan Tantangan Program MBG 2026 Masih Berat

Indeks kini berada di posisi 5.947,12, terlempar dari level psikologis 6.000.

Padahal, pada awal pembukaan IHSG sempat bergerak menguat dan menyentuh level tertinggi di 6.213,80. Namun tekanan jual yang deras membalikkan arah indeks.

Data Perdagangan dan Tekanan Pasar

Aktivitas pasar modal pada sesi pertama sangat padat. Total nilai transaksi mencapai Rp11,60 triliun dari 18,04 miliar lembar saham yang diperdagangkan.

Frekuensi transaksi tercatat 1,384 juta kali. Namun, intensitas tinggi ini didominasi pergerakan harga negatif.

Sebanyak 715 saham mengalami pelemahan harga signifikan. Sementara itu, 61 saham mampu bertahan di zona hijau, dan 183 saham stagnan.

Mayoritas emiten di Bursa Efek Indonesia (BEI) terdampak aksi jual massal. Kapitalisasi pasar kini tersisa sekitar Rp10.429 triliun.

>>> Kawinkan Gelar Juara, Basket SMP ABBS Borong Podium Liga Solo Junior 2026

Tekanan Dana Asing dan Pelemahan Rupiah

Ambruknya IHSG sejalan dengan derasnya aliran dana keluar asing. Pada perdagangan sebelumnya, investor asing mencatat net sell Rp1,39 triliun.

Meski sempat diserap investor domestik, tekanan jual hari ini terlalu berat. Kondisi ini diperparah oleh pelemahan nilai tukar rupiah.

Rupiah berada di Rp17.925 per dolar AS, melemah 0,4 persen. Level psikologis berikutnya adalah Rp18.000 per dolar AS.

Data Refinitiv menunjukkan rupiah kini di titik terendah sepanjang masa. Setelah menembus Rp17.900, rupiah mengancam level baru.

Pasar Regional Asia Justru Menguat

Anomali terjadi karena pelemahan IHSG berbanding terbalik dengan bursa Asia lainnya. Sebagian besar bursa regional justru bergerak di zona hijau.

Indeks Nikkei Jepang memimpin penguatan dengan kenaikan 2,91 persen. Bursa Shenzen China dan Taiwan juga menguat di atas 2 persen.

>>> Milenial Menyerah Beli Rumah di 2026, Fenomena 'Mending Sewa' Kini Banyak Dicari

Situasi ini mengindikasikan tekanan domestik yang kuat terhadap pasar keuangan Indonesia. Investor kini menanti langkah antisipasi untuk meredam gejolak di pasar modal dan valuta asing.