Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS terus menjadi perhatian utama dalam stabilitas ekonomi nasional.

Untuk memahami fenomena ini, kita bisa merujuk pada teori Dornbusch Overshooting Model dari ekonom MIT, Rudiger Dornbusch.

>>> MU Resmi Luluh Lepas Marcus Rashford ke Barcelona

Teori ini menjelaskan hubungan erat antara suku bunga dan nilai tukar. Dalam jangka pendek, nilai tukar cenderung melemah secara ekstrem saat terjadi guncangan ekonomi.

Pergerakan Rupiah di Semester Pertama 2026

Fenomena overshooting terlihat nyata pada pergerakan rupiah sepanjang semester pertama 2026. Tekanan global seperti lonjakan harga minyak dan likuiditas ketat memicu pelemahan signifikan.

Pada awal Januari 2026, nilai tukar berada di kisaran Rp16.690 per dolar AS.

Angka ini merosot ke Rp16.935 pada Maret dan menyentuh Rp17.879 pada awal Juni 2026.

Berikut ringkasan pergerakan rupiah:

  • Januari 2026: Rp16.690 per dolar AS (posisi awal tahun)
  • 9 Maret 2026: Rp16.935 per dolar AS (mulai tertekan)
  • 2 Juni 2026: Rp17.879 per dolar AS (titik terendah)

Faktor Global yang Mempengaruhi

Salah satu faktor penentu adalah kondisi ekonomi AS, terutama inflasi. Hingga April 2026, inflasi AS naik dari 3,3 persen menjadi 3,8 persen secara tahunan.

Angka ini merupakan yang tertinggi sejak pertengahan 2023 dan melampaui target The Fed sebesar 2,0 persen. Hal ini memperbesar peluang kenaikan suku bunga acuan.

>>> Daftar Skuad Lengkap 48 Negara Piala Dunia 2026: Resmi dan Terbaru

Proyeksi kebijakan The Fed menunjukkan pertemuan Juni 2026 peluang kenaikan masih kecil. Namun, pada September 2026 diprediksi ada kenaikan FFR ke kisaran 3,75-4,0 persen.

Kebijakan suku bunga tinggi diperkirakan bertahan hingga akhir tahun. Jika skenario ini berlanjut, tekanan terhadap rupiah masih akan terasa.