Mendeteksi kebohongan dalam percakapan bukanlah hal mudah. Meski berbohong adalah perilaku umum, hanya sedikit orang yang bertanggung jawab atas sebagian besar kebohongan.

Hal ini membuat kebohongan sulit dideteksi karena pembohong mahir menyembunyikan tanda-tandanya.

>>> Frisian Flag Gelar Edukasi Gizi dan Kedekatan Emosional Anak di Bintaro

Banyak orang percaya bahwa menghindari kontak mata, gelisah, atau gagap adalah penanda utama, namun penelitian hanya menemukan sedikit bukti.

Psikolog Maria Hartwig, peneliti penipuan di John Jay College of Criminal Justice, mengatakan bahwa kepercayaan diri berlebihan dalam mendeteksi kebohongan justru bisa menyebabkan kesalahan peradilan.

Tanda Peringatan dalam Percakapan

Beberapa indikator dapat menunjukkan seseorang tidak jujur. Pembohong cenderung bersikap samar, memberikan sedikit detail, mengulangi pertanyaan sebelum menjawab, dan mengulang cerita yang sama.

Mereka juga sering berbicara dengan kalimat tidak lengkap, menjelaskan sesuatu secara kronologis ketat, dan terdengar seperti membaca naskah.

Saat ceritanya dipertanyakan, mereka gagal memberikan detail spesifik dan tidak menjawab langsung pertanyaan ya atau tidak.

Perilaku perawatan diri seperti bermain rambut atau menekan jari ke bibir juga bisa menjadi indikator.

Perubahan fisik akibat respons lawan-atau-lari, seperti peningkatan keringat, ketegangan otot, dan gelisah, juga muncul.

Analisis Indikator Kebohongan

1. Bahasa TubuhMasyarakat sering fokus pada petunjuk fisik seperti mengangkat bahu, kurang ekspresi, atau memegang rambut.

>>> Tren Foodscaping: Lanskap Halaman Rumah Indah dan Produktif

Namun, psikolog Howard Ehrlichman menemukan bahwa gerakan mata tidak menandakan kebohongan. Mengalihkan pandangan justru menandakan seseorang sedang berpikir atau mengakses memori jangka panjang.

2. Isyarat VokalUcapan yang tidak pasti dapat mengindikasikan ketidaknyamanan atau rasa bersalah.

Sebuah studi menemukan bahwa pembohong cenderung mengurangi isyarat kebohongan karena mereka memodifikasi perilaku agar tidak ketahuan.

Isyarat verbal, terutama isi ucapan, lebih menjanjikan untuk membedakan kebenaran daripada nada suara.

3. Isyarat BahasaPembohong sering menghindari detail penting untuk mengurangi risiko ketahuan karena minimnya fakta yang bisa diperiksa.

Penelitian menunjukkan berbohong membutuhkan usaha mental lebih besar. Saat dihadapkan pada tugas yang membebani otak, tanda kebingungan atau jeda bicara lebih mudah terlihat.

4. Isyarat NaluriIntuisi kadang membantu mengenali kebohongan.

>>> Viral Office Air Theory Bikin Penampilan Kusam, Pakar Kulit Ungkap Penyebabnya

Dalam sebuah penelitian, sebagian besar peserta tidak mampu membedakan pembohong dan orang jujur secara sadar. Namun, respons bawah sadar mereka lebih sering mengaitkan pembohong dengan sifat tidak jujur.