Melalui kurasi yang melibatkan asosiasi, dana yang disalurkan diharapkan benar-benar tepat sasaran dan memberikan dampak ekonomi nyata.

Hal ini sekaligus menjaga rasio kredit tetap sehat dan berkelanjutan bagi lembaga tersebut.

Mengatasi Kendala Sistem Perbankan Konvensional

Saat ini, banyak inovasi bisnis dari anak muda yang terhenti di tengah jalan karena kendala modal.

Sistem perbankan konvensional dinilai belum sepenuhnya ramah terhadap karakteristik bisnis rintisan atau pengusaha yang baru memulai langkahnya.

Anthony berpendapat bahwa ide-ide kreatif dan potensial tidak boleh mati hanya karena aturan agunan yang terlalu ketat.

>>> Paul Scholes Beri Kode: Marcus Rashford ke Arsenal pada 2026?

Perjuangan HIPMI ke depan adalah memastikan adanya jaminan akses permodalan yang nyata dan bisa dijangkau oleh semua kalangan.

Detail mengenai skema bunga dan mekanisme operasional yang diwacanakan adalah sebagai berikut:

  • Tingkat suku bunga sekitar 2 hingga 3 persen di atas BI Rate.
  • Dasar penilaian adalah kelayakan bisnis dan potensi dampak ekonomi nyata.
  • Pihak pengurasi adalah kolaborasi antara pemerintah dan asosiasi pengusaha.
  • Target utama adalah pengusaha muda pemula di kota besar maupun daerah.

Suku bunga yang diusulkan dianggap masih sangat terjangkau bagi pelaku usaha pemula yang sedang berkembang.

Di sisi lain, angka tersebut juga menjamin bank tetap memiliki ruang untuk berkembang sebagai lembaga finansial yang sehat.

Anthony juga menyoroti adanya ketimpangan distribusi modal yang selama ini lebih banyak berputar di kota-kota besar saja.

Banyak pengusaha berbakat di daerah yang justru kesulitan mendapatkan dukungan dana untuk membesarkan skala usahanya.

Membangun Pusat Ekonomi Baru di Berbagai Daerah

Gagasan pembentukan Youth Development Bank diharapkan bisa menjadi motor penggerak ekonomi yang lebih merata di seluruh wilayah Indonesia.