Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyalahkan Kanada atas kabut asap akibat kebakaran hutan yang menyelimuti negaranya dalam beberapa hari terakhir.

Ia menegaskan bakal membebankan kerugian besar akibat polusi udara itu ke dalam tarif impor barang-barang Kanada.

>>> Rekan Duet Jay Idzes di Sassuolo, Tarik Muharemovic, Resmi Gabung Leeds United

Asap pekat dari ratusan titik kebakaran di Kanada menyelimuti sebagian wilayah AS, mulai dari Midwest hingga ke Northeast.

Situasi ini membuat otoritas setempat mengeluarkan peringatan agar warga tetap beraktivitas di dalam rumah.

Trump mengaku akan menghubungi Perdana Menteri Kanada Mark Carney untuk mempertanyakan langkah yang akan diambil.

"Kami menuntut pertanggungjawaban Kanada karena mereka tidak mengelola hutan mereka dengan baik.

Akibatnya Amerika Serikat terkena imbas polusi udara yang kotor dan berbahaya bagi kesehatan," tulis Trump di Truth Social, Sabtu (18/7).

"Ini adalah bentuk kelalaian yang disengaja dan menjadi fenomena tahunan yang merugikan AS hingga miliaran dolar.

Oleh karena itu, biaya kerugian akibat polusi ini harus dimasukkan ke dalam komponen tarif yang saat ini dibayarkan oleh Kanada," lanjut dia.

Belum ada pernyataan resmi dari Carney. Namun, keduanya dijadwalkan bertemu dalam laga final Piala Dunia 2026 di New Jersey pada Minggu (19/7).

>>> Polda Metro Imbau Waspadai Perilaku Lane Hogger di Jalan Tol

Imbas Krisis Iklim

Tahun ini, mayoritas titik api di Kanada berada di Ontario, tepatnya di wilayah barat laut yang terpencil dan berpenduduk jarang.

Sejauh ini, lahan seluas 650.000 hektar hangus terbakar, meningkat dari 600.000 hektar pada periode yang sama tahun lalu.

Ribuan warga terpaksa dievakuasi.

Asap dari lebih 100 titik kebakaran hutan di Ontario utara membuat kualitas udara Toronto menjadi yang terburuk di dunia saat ini.

Hal ini juga menyebabkan udara berwarna kuning dan berasap di kota-kota seluruh timur laut AS.

Para pakar iklim berpendapat bahwa lonjakan suhu global akibat krisis iklim menyebabkan kondisi hutan menjadi lebih kering, sehingga memicu lebih banyak kebakaran hutan.

"Seiring dengan pemanasan iklim, kita menghadapi cuaca ekstrem yang lebih panas, kering, dan berangin.

Kondisi seperti ini sangat memicu kebakaran," kata Mike Flannigan, profesor bidang kebakaran hutan dari Thompson Rivers University.

>>> Harga Rp24 Ribuan, Apakah Serum Anti Aging Viva Bagus? Ini Ulasan Pengguna

Carney, pada hari Kamis, sempat menyentil bahwa AS sebenarnya bisa berbuat lebih banyak untuk memerangi perubahan iklim yang menjadi pemicu meningkatnya suhu ekstrem.