Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat penurunan drastis jumlah penumpang angkutan udara domestik pada April 2026. Data ini dirilis dalam konferensi pers pada Selasa (2/6/2026).

Deputi Bidang Metodologi dan Informasi Statistik BPS, Pudji Ismartini, memaparkan bahwa penurunan terjadi di beberapa sektor transportasi.

>>> Kapal Pesiar MV Hondius Resmi Aman Berlayar Lagi Setelah Terpapar Hantavirus

Namun, angkutan udara internasional dan kereta api justru mengalami peningkatan secara bulanan.

Penurunan Penumpang Pesawat Domestik

Jumlah penumpang pesawat domestik pada April 2026 hanya mencapai 4,57 juta orang. Angka ini turun 18,72 persen dibandingkan Maret 2026 (month to month).

Secara tahunan, penurunan mencapai 15,85 persen dibandingkan April 2025. BPS menyebut berakhirnya masa puncak arus mudik Idulfitri sebagai penyebab utama.

Selain faktor musiman, kenaikan harga avtur juga menjadi tekanan. Pertamina mencatat kenaikan harga bahan bakar pesawat lebih dari 70 persen secara bulanan.

Bandara dengan Penurunan Terdalam

  • Bandara Hasanuddin (Makassar): turun 13,24 persen
  • Bandara Soekarno-Hatta (Tangerang): turun 8,66 persen
  • Bandara Kualanamu (Medan): turun 6,36 persen

Penurunan terjadi di hampir seluruh pintu masuk utama Indonesia. Hal ini sejalan dengan melandainya aktivitas perjalanan jarak jauh pasca-libur panjang.

Transportasi Laut dan Penyeberangan

Penumpang angkutan laut domestik tercatat 2,93 juta orang, turun 6,17 persen secara bulanan. Secara tahunan, angka ini merosot 9,81 persen.

Pelabuhan Balikpapan mencatat penurunan terdalam sebesar 50,81 persen. Namun, Pelabuhan Tanjung Perak dan Belawan justru melonjak masing-masing 225,87 persen dan 140,34 persen.

Penurunan paling tajam terjadi pada angkutan sungai, danau, dan penyeberangan (ASDP). Jumlah penumpang ASDP merosot 33,54 persen secara bulanan menjadi 4,69 juta orang.

>>> Mandiri Inhealth Ganti Logo Baru 2026, Resmi Perkuat Sinergi Layanan Grup

Secara tahunan, penumpang ASDP turun 24,99 persen.

Pelabuhan Bakauheni mengalami penurunan tertinggi sebesar 41,79 persen, disusul Merak (37,34 persen) dan Gilimanuk (35,99 persen).

Kereta Api Tumbuh Positif

Di tengah lesunya moda lain, kereta api mencatat pertumbuhan.

Jumlah penumpang kereta api mencapai 48,28 juta orang, naik 0,30 persen secara bulanan dan 7,65 persen secara tahunan.

Dominasi penumpang berasal dari Jabodetabek, terutama pengguna KRL, sebanyak 30,6 juta orang (63,35 persen).

MRT tumbuh 11,29 persen, LRT naik 11,61 persen, dan Kereta Cepat Whoosh meningkat 7,76 persen.

Namun, rute jarak jauh di Jawa non-Jabodetabek turun 11,98 persen, dan wilayah luar Jawa turun 3,83 persen.

>>> Ikuti Debat TCF 2026, Menangkan Buku DDTC Gratis

Pengguna kereta bandara juga merosot 9,84 persen sejalan dengan penurunan penumpang pesawat.