Wakil Ketua Umum Bidang Hubungan Masyarakat dan Edukasi Periklindo, Achmad Rofiqi, mengingatkan pemilik mobil listrik untuk tidak selalu mengisi daya baterai hingga penuh di SPKLU.

Menurut Rofiqi, pengisian daya sebaiknya disesuaikan dengan kebutuhan perjalanan dan kapasitas baterai yang tersisa.

>>> Mitsubishi Pastikan Pajero Generasi Kelima Debut Global pada 2026

"Sebenarnya tidak perlu selalu mengisi baterai sampai penuh di SPKLU. Selain lebih praktis, biaya pengisian di rumah juga biasanya lebih murah," kata Rofiqi.

Ia mencontohkan perjalanan dari Jakarta ke Bandung. Jika kapasitas baterai masih cukup, pengisian tidak harus sampai penuh.

"Ketika saya bepergian bersama saudara ke Bandung dan melihat kapasitas baterai masih sekitar 37 persen, saya tetap berangkat.

Kalau memang perlu mengisi daya di SPKLU area istirahat, cukup sampai 70 atau 80 persen, lalu perjalanan dilanjutkan.

Bahkan masih bisa digunakan untuk perjalanan pulang," ujarnya.

Rofiqi mengakui kekhawatiran kehabisan daya atau range anxiety masih sering dirasakan pengguna baru. Namun, pemahaman akan meningkat seiring pengalaman.

Proses pengisian daya kini semakin mudah karena terintegrasi dengan aplikasi, termasuk aplikasi PLN. Hal ini membantu pengguna memperkirakan kebutuhan energi.

"Sekarang pengisian daya juga sudah lebih mudah karena bisa dilakukan melalui aplikasi PLN.

Sama seperti saat membeli bahan bakar, kita juga bisa menghitung kebutuhan energi yang diperlukan, tidak harus selalu mengisi penuh," ujarnya.

>>> Harga BBM Diesel Non-Subsidi Turun Juni 2026, Biaya Full Tank Ford Everest Lebih Hemat

Pengisian hingga 100 persen di SPKLU juga tidak efisien dari sisi waktu. Kecepatan pengisian akan menurun drastis saat baterai mendekati penuh.

Rofiqi mencontohkan charger 200 kW.