Blockchain technology adalah sistem basis data terdesentralisasi yang mencatat transaksi secara permanen dalam blok yang saling terhubung menggunakan kriptografi.

Pada tahun 2026, cara kerja blockchain telah berevolusi dari sekadar aset kripto menjadi infrastruktur digital yang mendukung identitas terverifikasi, rantai pasok transparan, dan kontrak pintar otomatis yang efisien.

>>> Resmi! Kolaborasi Free Fire x Gintama Rilis 24 April 2026, Cek Bocoran Konten Terbaru

Prinsip Dasar Cara Kerja Blockchain

Desentralisasi menjadi fondasi utama blockchain. Data tidak disimpan di satu server pusat, melainkan di ribuan node (komputer) di seluruh dunia.

Kriptografi mengamankan setiap blok dengan "hash" unik yang mengunci data agar tidak bisa diubah tanpa merusak seluruh rantai.

Konsensus memastikan semua partisipan menyetujui validitas transaksi melalui mekanisme seperti Proof of Stake (PoS).

Immutability menjamin bahwa sekali data tercatat, data tersebut bersifat permanen dan tidak dapat dihapus.

Langkah-Langkah Kerja Sistem Blockchain

Proses transaksi dalam jaringan blockchain melibatkan tahapan yang sistematis. Pertama, inisiasi transaksi terjadi ketika pengguna mengirimkan data atau aset digital melalui dompet digital (wallet).

Transaksi ini dibubuhi tanda tangan digital menggunakan kunci privat (private key) pengguna.

Kedua, transaksi yang sudah ditandatangani akan disebarkan ke jaringan Peer-to-Peer (P2P). Ribuan komputer atau node menerima informasi tersebut dan menempatkannya dalam antrean yang disebut mempool.

Ketiga, node-node dalam jaringan memeriksa validitas transaksi, termasuk keaslian tanda tangan digital dan ketersediaan saldo atau data yang dikirim.

Keempat, setelah sekumpulan transaksi divalidasi, transaksi tersebut dikelompokkan menjadi satu blok.

Setiap blok memiliki penanda waktu (timestamp) dan referensi ke blok sebelumnya yang disebut Parent Hash. Kelima, mekanisme konsensus diterapkan untuk mencapai kesepakatan bahwa blok tersebut valid.