Asosiasi Perusahaan Minyak dan Gas Nasional (Aspermigas) menyoroti target lifting minyak nasional untuk tahun 2027.

Pemerintah menetapkan angka tersebut dalam kisaran 602.000 hingga 615.000 barel per hari (bph).

>>> Kemhan Gelar Penghormatan Terakhir untuk Ryamizard Ryacudu, Ini Jadwal Lengkap

Target itu hampir sama dengan target tahun ini yang dipatok pada 610.000 bph. Kondisi ini memicu kekhawatiran tentang stagnasi produksi migas.

Analisis Aspermigas terhadap Komponen Lifting

Ketua Komite Investasi Aspermigas, Moshe Rizal, menilai target dalam KEM-PPKF 2027 cenderung jalan di tempat. Hal ini disebabkan oleh perubahan metode pencatatan yang mulai diberlakukan pemerintah.

Menurut Moshe, lonjakan angka lifting pada tahun 2025 menjadi 605.000 bph bukan karena kenaikan produksi minyak mentah murni.

Kenaikan itu terjadi setelah pemerintah memasukkan komponen natural gas liquid (NGL) ke dalam data lifting.

Aspermigas menilai peningkatan angka di atas kertas tidak mencerminkan kondisi riil di lapangan. Tanpa eksplorasi besar-besaran, target jangka panjang akan semakin sulit dicapai.

Kritik terhadap Perubahan Definisi Produksi

Moshe Rizal menekankan pemerintah harus memberikan gambaran yang lebih transparan tentang realitas produksi migas nasional.

Ia mengingatkan agar kenaikan angka statistik tidak dijadikan dasar semu untuk mengukur keberhasilan industri hulu.

Perubahan definisi pencatatan ini menutupi kondisi penurunan produksi alami di sumur-sumur minyak Indonesia. Hal ini dikhawatirkan memberi rasa aman yang keliru bagi pemangku kebijakan.

>>> Suasana Terkini Rumah Duka Eks Menhan Ryamizard Ryacudu, Pelayat Mulai Ramai Datang

"Kenaikan dari periode 2024 ke 2025 itu terjadi karena perubahan definisi, bukan karena peningkatan produksi yang nyata di lapangan," ujar Moshe saat dihubungi pada Minggu (31/5/2026).