Tiga bulan telah berlalu sejak konflik bersenjata antara Amerika Serikat dan Iran pecah. Kondisi global masih terperangkap dalam ketidakpastian yang mendalam.

Serangan fisik dan siber mulai mereda, namun peperangan beralih ke ranah diplomasi yang tidak stabil. Guncangan ekonomi dan manipulasi informasi secara masif juga terjadi.

>>> Tanda Kiamat Ternyata Tampak Jelas dari Sikat Gigi

Indonesia sebagai negara besar di posisi strategis tidak boleh hanya menjadi penonton.

Situasi ini justru menjadi momentum untuk mengkaji ulang posisi strategis dan mengambil langkah berani namun penuh perhitungan.

Diplomasi Aktif dan Soft Power

Strategi yang perlu dirumuskan mencakup kombinasi diplomasi aktif, pemanfaatan soft power yang cerdas, serta penguatan ketahanan ekonomi struktural.

Langkah pertama yang krusial adalah memanfaatkan warisan sejarah diplomatik Indonesia.

Indonesia adalah inisiator Konferensi Asia Afrika 1955 dan motor penggerak Gerakan Non-Blok.

Prinsip politik luar negeri yang mandiri, solidaritas, dan penolakan polarisasi kekuatan besar merupakan identitas diplomatik yang teruji.

Saat dunia terbelah menjadi kubu pro-Barat dan anti-hegemoni, Indonesia memiliki kredibilitas moral untuk menjadi jembatan perdamaian.

Pemerintah diharapkan memimpin konsolidasi negara berkembang yang terdampak lonjakan harga energi dan pangan.

Sikap diam atau menunggu badai mereda akan dianggap mengabaikan kemampuan diplomatik yang dibangun puluhan tahun.

Konflik ini juga menyentuh wilayah sensitif karena Indonesia tidak memiliki hubungan diplomatik resmi dengan Israel.

Ketika dinamika perang mengaitkan ketegangan di Teheran dengan konflik Palestina, posisi Indonesia menjadi unik dan menantang.

Mendukung kemerdekaan Palestina adalah amanat konstitusi, namun ketiadaan hubungan dengan Israel bisa membatasi ruang gerak sebagai mediator.

Batasan tersebut justru bisa menjadi kekuatan moral bagi diplomasi Indonesia. Indonesia bisa mendorong solusi damai di Timur Tengah agar tidak terjebak dalam persaingan kubu yang saling menjatuhkan.