Perubahan iklim yang menjadi salah satu tanda kiamat ternyata dapat dilihat dari benda sehari-hari: sikat gigi.

Aktivitas manusia sejak era 1800-an, termasuk penggunaan sikat gigi modern, mempercepat perubahan iklim.

>>> GIIAS 2026 Resmi Digelar di ICE BSD, Hadirkan 6 Merek Mobil Baru

Pembakaran bahan bakar fosil dan efek gas rumah kaca menjadi penyebab utama. Namun, sikat gigi juga ikut berkontribusi terhadap krisis lingkungan.

Dampak Sikat Gigi terhadap Lingkungan

Sikat gigi modern mulai ditemukan pada 1900-an. Sejak saat itu, perubahan iklim semakin terasa.

Pada zaman dahulu, sikat gigi terbuat dari bahan alami seperti bambu atau kulit kayu. Seiring waktu, bahan dasarnya berubah menjadi tulang hewan dan kulit hewan.

Memasuki 1900-an, sikat gigi mulai menggunakan gagang plastik dan bulu nilon. Menurut Greenbiz, kedua bahan ini tidak ramah lingkungan dan sulit terurai.

National Geographic menyebut sikat gigi menjadi bagian dari krisis lingkungan. Sikat gigi termasuk benda yang tidak bertahan lama.

American Dental Association (ADA) merekomendasikan penggantian sikat gigi setiap tiga sampai empat bulan. Artinya, seseorang membuang sikat gigi tiga hingga empat kali setahun.

Jika penduduk Indonesia sebanyak 273 juta orang, setidaknya ada lebih dari satu miliar sampah sikat gigi per tahun.

>>> Jetour T1 i-DM Segera Meluncur, SUV PHEV Terbaru di Indonesia

Jumlah itu belum termasuk dari seluruh dunia.

Dengan delapan miliar penduduk dunia, diperkirakan ada sekitar 24 miliar limbah sikat gigi setiap tahun. Setiap orang bisa menggunakan 280-300 sikat gigi hingga usia 75 tahun.

Di Amerika Serikat yang berpenduduk 331 juta jiwa, sampah sikat gigi setara dengan empat lilitan bumi dalam setahun.

Menurut Haeckels, ada 264 juta sikat gigi dibuang karena lewat batas pakai.

Sikat gigi listrik dengan baterai juga tidak ramah lingkungan. Sikat gigi plastik baru terurai setelah 200-700 tahun.

Selama proses penguraian, plastik mengeluarkan gas rumah kaca. Di laut, plastik dapat membunuh zooplankton yang berperan menyerap karbon.

>>> Beasiswa ARICE 2026 Segera Dibuka: Kuliah S1-S3 Gratis di Rumania, Cek Syaratnya!

Jurnalis Alejandra Borunda dari National Geographic menulis, "Sangat sulit menemukan opsi sikat bebas plastik. Plastik biodegradable tidak selalu lebih baik."