Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran kembali memanas setelah Washington memberikan peringatan keras terkait kelanjutan operasi militer.

Pemerintah AS menyatakan kesiapannya untuk melancarkan serangan baru jika upaya diplomasi yang tengah berlangsung gagal mencapai kesepakatan.

>>> Selamat! Adhisty Zara Resmi Menikah dengan Musisi Abdullah Tsaqib, Umumkan Kehamilan Pertama Secara Bersamaan pada Minggu, 31 Mei 2026

Menteri Pertahanan Amerika Serikat, Pete Hegseth, menegaskan bahwa kekuatan militer negaranya saat ini berada dalam tingkat kesiapan tertinggi.

Ia menyebut militer AS siap merespons berbagai kemungkinan yang terjadi di kawasan Timur Tengah di tengah kebuntuan negosiasi.

AS Siapkan Opsi Militer di Tengah Negosiasi

Pernyataan ini muncul saat para negosiator dari kedua negara sedang berupaya keras menjembatani perbedaan pandangan yang cukup tajam.

Hegseth menegaskan bahwa Washington memiliki kemampuan penuh untuk memulai kembali operasi militer kapan pun dibutuhkan.

Dalam pertemuan di Singapura, ia menyebutkan bahwa cadangan amunisi dan kekuatan tempur Negeri Paman Sam sangat memadai.

Amerika Serikat merasa berada dalam posisi yang sangat kuat untuk mendukung kebutuhan operasional di lapangan jika kesepakatan tidak tercapai.

Hegseth juga memastikan bahwa keterlibatan mereka di Timur Tengah tidak akan mengalihkan fokus strategi AS di kawasan Indo-Pasifik.

Pemerintah saat ini tengah mempercepat produksi industri pertahanan untuk memperkuat kapasitas persenjataan global mereka.

Langkah strategis yang sedang dilakukan oleh militer Amerika Serikat mencakup:

  • Meningkatkan kapasitas produksi amunisi hingga empat kali lipat dalam waktu singkat.
  • Memastikan seluruh rencana operasional di berbagai belahan dunia mendapatkan pendanaan yang cukup.
  • Menjaga kesiapan logistik dan persediaan tempur baik di kawasan konflik maupun secara global.
  • Memperkuat basis industri pertahanan guna menghadapi ancaman dalam jangka panjang.