Indonesia memiliki modal dasar yang kuat di sektor perikanan. Sekitar 75 persen wilayahnya adalah lautan dengan luas perairan mencapai 6,4 juta km².

Sebagai negara kepulauan terbesar, laut berperan sebagai penghubung dan ruang produksi strategis. Badan Informasi Geospasial mencatat jumlah pulau mencapai 17.380 pada 2024.

>>> Lanjutkan Turing ke Eropa, Pria Ini Geber Yamaha XMax 11 Ribu Km dari Makkah

Pembangunan sektor kelautan dan perikanan harus menjadi agenda utama nasional. Potensi ini perlu dikelola dengan perspektif manajemen biobisnis yang terintegrasi.

Potensi dan Capaian Ekonomi Perikanan

Kementerian Kelautan dan Perikanan mencatat potensi lestari ikan laut Indonesia mencapai 12,01 juta ton per tahun. Kontribusi PDB sektor perikanan pada 2025 mencapai Rp610,75 triliun.

Nilai ekspor produk kelautan dan perikanan pada 2025 menembus USD6,27 miliar, tumbuh 5,2 persen. Komoditas unggulan meliputi udang, tuna-cakalang, cumi-sotong-gurita, rajungan-kepiting, dan rumput laut.

Tantangan utama bukan lagi meningkatkan produksi, melainkan pengelolaan yang adil dan efisien. Keunggulan ekspor harus dilihat dari nilai tambah dan penguasaan teknologi dalam negeri.

Urgensi Kedaulatan dan Tata Kelola

Negara berdaulat di perikanan mampu mengatur, mengolah, dan memasarkan sumber daya secara mandiri. Hal ini mencakup penguasaan data stok ikan, pengawasan laut, dan kepastian hukum usaha.

Tantangan bersifat multidimensional dari hulu ke hilir. Di hulu, masalah produktivitas, akses permodalan, serta kualitas benih dan pakan masih menjadi kendala.

Di tengah rantai nilai, infrastruktur pelabuhan dan rantai dingin perlu penguatan. Di hilir, standardisasi mutu, sertifikasi, dan diplomasi pasar menjadi syarat daya saing global.

>>> Logo Gerindra Muncul di Poster BYD, Ini Klarifikasinya

Strategi pembangunan perikanan memerlukan pendekatan sistemik. Langkahnya meliputi integrasi sektor tangkap dan budidaya dengan industri pengolahan.