Oliver Glasner resmi meninggalkan kursi kepelatihan Crystal Palace setelah sukses mempersembahkan trofi UEFA Conference League. The Eagles menundukkan Rayo Vallecano 1-0 di Leipzig melalui gol tunggal.

Pencapaian ini melengkapi catatan emas klub London Selatan yang sebelumnya tidak pernah meraih trofi mayor. Dalam 375 hari, juru taktik asal Austria itu mempersembahkan tiga gelar juara sekaligus.

>>> BNI Salurkan 1.200 Hewan Kurban ke Berbagai Wilayah Indonesia

Dampak Instan Glasner

Gelandang Crystal Palace, Adam Wharton, memberikan kesaksian mengenai dampak instan yang dihadirkan sang pelatih.

"Dia harus menjadi salah satu manajer terbaik yang pernah dimiliki Crystal Palace," kata Wharton dikutip dari BBC.

"Dia telah membuat perbedaan besar bagi bagaimana klub memandang kompetisi. Kami tidak hanya ingin bertahan di Premier League, kami ingin menang," tambahnya.

Jalan Terjal Menuju Gelar

Langkah Crystal Palace menuju podium juara Eropa penuh tantangan.

>>> Pertamina Luncurkan Tugu PertaLibs untuk Tingkatkan Literasi Pekerja

Posisi klub di Europa League terpaksa dicopot UEFA akibat pelanggaran aturan kepemilikan multi-klub oleh John Textor di Palace dan Lyon.

Ketegangan internal sempat mencuat menjelang penutupan jendela transfer. Glasner mengancam akan mundur jika bek andalan Marc Guehi dilepas ke klub rival.

Memasuki paruh musim, performa tim merosot hingga terlempar dari persaingan papan atas Premier League. Keterpurukan diperparah saat tersingkir dari FA Cup oleh tim non-liga, Macclesfield.

Situasi mencapai puncaknya ketika Glasner mendadak mengumumkan rencana kepergiannya di akhir musim. Keputusan ini diambil setelah manajemen menyetujui penjualan Marc Guehi ke Manchester City.

>>> Kurs Rupiah 28 Mei 2026 Melemah ke Rp17.860 per Dolar AS

Perwakilan fanzine Crystal Palace Eagle Eye View, Ellie Killick, mengungkapkan kekecewaan suporter. "Cara kepergiannya diumumkan memberi sedikit awan abu-abu pada perasaan saya terhadapnya," katanya.