Kementerian Haji dan Umrah RI (Kemenhaj) melarang jemaah haji Indonesia melontar jumrah di Jamarat pada pukul 10.00 hingga 14.00 Waktu Arab Saudi (WAS), Rabu (27/5/2026).

Larangan ini bertujuan menjaga keselamatan jiwa dari cuaca ekstrem. Suhu udara di Mina saat ini mencapai 41 derajat Celcius.

>>> Starvision Rilis Sekawan Limo 2 di Bioskop Indonesia 27 Mei 2026

Imbauan Tetap di Dalam Tenda

Kemenhaj menginstruksikan jemaah untuk tidak keluar dan tetap bertahan di dalam maktab masing-masing selama jam terlarang.

Pembatasan ini menjadi langkah preventif mengantisipasi risiko dehidrasi berat dan heatstroke.

"Secara khusus bagi jemaah Indonesia yang akan menuju ke Jamarat, kami mengimbau untuk tidak melaksanakan lontar jumrah pada pukul 10.00 pagi hingga 14.00 siang WAS," kata Maria dalam konferensi pers via YouTube Kemenhaj.

Pengaturan jadwal pergerakan ini dinilai krusial untuk memastikan kondisi di lapangan tetap kondusif. Langkah pengetatan juga diambil agar arus mobilisasi jemaah bisa dikendalikan petugas.

"Para jemaah harus tetap berada di dalam tenda dan mengikuti arahan petugas.

Dengan mengikuti jadwal ini, pergerakan menuju dan dari Jamarat dapat berlangsung lebih aman, nyaman, dan tertib," jelas Maria.

Rute Khusus Jemaah Indonesia

Selain pembatasan waktu, Kemenhaj mengatur rute pergerakan jemaah Indonesia melalui infrastruktur khusus. Pengalihan rute bertujuan memecah konsentrasi massa di titik rawan.

"Jemaah diharapkan memanfaatkan Jalur 2 atau Jalur Atas yang telah disiapkan sebagai jalur pergerakan resmi jemaah Indonesia.

>>> Pemkot Yogyakarta Pastikan Kelayakan Sapi Kurban Bantuan Presiden

Jalur ini dirancang untuk mendukung kelancaran arus sekaligus mengurangi potensi kepadatan," papar Maria.

Proteksi Kesehatan di Cuaca Ekstrem

Menghadapi suhu 41 derajat Celcius, jemaah diwajibkan melakukan proteksi kesehatan mandiri.

Upaya tersebut meliputi konsumsi air putih cukup, menjaga waktu makan, menggunakan payung di luar tenda, dan meminimalkan aktivitas fisik non-esensial.

Otoritas menekankan pengawasan berlapis bagi kelompok jemaah rentan. Keluarga di tanah air diminta menyimpan data identitas jemaah untuk memudahkan pemantauan.

"Terutama bagi jemaah lansia, disabilitas, dan risiko kesehatan tinggi, kami meminta ketua rombongan dan sesama jemaah untuk terus memberikan perhatian serta pendampingan," harap Maria.

Masyarakat diimbau segera melapor ke petugas jika menemukan jemaah tersesat, bingung, atau mengalami kendala kesehatan.

Kemenhaj memastikan seluruh fasilitas penunjang seperti akomodasi, transportasi, konsumsi, pos kesehatan, dan bimbingan ibadah tetap berjalan penuh.

>>> MSCI Coret Saham BSDE dari Small Cap Index, Harga Tertekan

"Seluruh layanan dipastikan tetap berjalan optimal hingga seluruh rangkaian Armuzna selesai," pungkas Maria.