Kolitis ulseratif atau ulcerative colitis merupakan penyakit peradangan usus kronis yang menyerang lapisan terdalam dinding usus besar dan rektum.

Kondisi ini memicu luka serta peradangan berkelanjutan yang dapat mengganggu kualitas hidup penderitanya jika tidak ditangani dengan tepat.

>>> 5 Film Bioskop Terbaru untuk Libur Idul Adha 2026

Di Asia, termasuk Indonesia, tingkat keparahan gejala yang ditemukan umumnya berkisar antara ringan hingga sedang.

Penyakit ini berkaitan erat dengan gangguan peradangan kronis pada saluran cerna, bukan disebabkan oleh infeksi bakteri atau virus.

Pola peradangannya unik, biasanya dimulai dari rektum dan dapat menyebar ke bagian usus besar lainnya.

Banyak penderita sering terlambat menyadari kondisi ini karena gejalanya berkembang perlahan dan kerap dianggap sebagai gangguan pencernaan biasa.

Gejala Khas Kolitis Ulseratif

Gejala yang paling menonjol adalah diare yang disertai darah, lendir, atau nanah akibat luka pada dinding usus.

Penderita juga sering merasakan nyeri kram di perut bagian bawah dan sensasi ingin buang air besar terus-menerus meskipun tinja tidak keluar.

Selain itu, manifestasi klinis meliputi perut kembung, penurunan nafsu makan, berat badan turun drastis, dan demam tinggi. Gejala-gejala ini membedakan kolitis ulseratif dari masalah perut lainnya.

>>> 10 Negara Terkotor di Dunia Tahun 2025, Indonesia Masuk Daftar

Faktor Risiko yang Perlu Diketahui

Penyebab pasti kolitis ulseratif belum diketahui, namun beberapa faktor risiko telah diidentifikasi. Gangguan autoimun, di mana sistem kekebalan tubuh menyerang sel sehat di saluran pencernaan, menjadi faktor utama.

Faktor genetik juga berperan, karena riwayat keluarga dengan penyakit serupa meningkatkan risiko seseorang.

Gaya hidup dan lingkungan, seperti polusi, infeksi tertentu, serta pola makan tinggi lemak, gluten, dan karbohidrat olahan, diduga memperburuk risiko peradangan.

Pengelolaan dan Pencegahan Kekambuhan

Kolitis ulseratif belum bisa disembuhkan secara total, namun dapat dikendalikan. Fokus utama pengobatan adalah mencapai masa remisi, yaitu periode panjang tanpa gejala sehingga pasien dapat beraktivitas normal.

Penanganan meliputi pemberian obat anti-inflamasi, perbaikan pola makan, hingga operasi pada kasus berat.

Perubahan gaya hidup menjadi kunci, termasuk menghindari makanan pemicu peradangan seperti gorengan, jeroan, makanan olahan, minuman bersoda, dan makanan tinggi lemak jenuh.

Pemeriksaan dini oleh dokter spesialis sangat disarankan bagi siapa pun yang mengalami gangguan pencernaan kronis.

>>> Arema FC Resmi Lepas Lucas Frigeri Setelah Kontrak Berakhir

Diagnosis tepat membantu menjaga kualitas hidup karena penyakit ini dapat kambuh dan membutuhkan pemantauan jangka panjang.