Integrasi ekonomi kawasan Asia Tenggara masih menghadapi berbagai hambatan serius di tengah meningkatnya gejolak geopolitik dan perang dagang global.

Komitmen negara-negara anggota ASEAN saat ini dinilai belum optimal untuk menghadapi tantangan tersebut.

>>> DC Studios Siap Rilis Supergirl di Bioskop Indonesia Juni Mendatang

Hal ini mengemuka dalam diskusi Jakarta Globe Insight bertajuk "ASEAN at a Crossroads: Turning Global Turmoil into Regional Opportunity" di Hotel Mulia, Jakarta, pada Selasa (26/5/2026).

Mantan Duta Besar Indonesia untuk WTO 2014-2015, Iman Pambagyo, mengungkapkan bahwa ego sektoral negara anggota masih menjadi ganjalan besar.

Ketika perang tarif global meletus, negara-negara ASEAN cenderung berjalan sendiri-sendiri dan mencari kesepakatan bilateral sepihak dengan kekuatan besar seperti AS, daripada berkoordinasi secara solid.

Menurut Iman, koordinasi yang solid menjadi sangat krusial agar kawasan ini bisa menghadapi fragmentasi rantai pasok global secara bersama-sama.

Negara-negara ASEAN idealnya memiliki komunikasi yang baik satu sama lain saat dihadapkan pada persoalan perang dagang dan fragmentasi rantai pasok global.

Ia menambahkan bahwa negara-negara di ASEAN bisa maju secara ekonomi hingga titik ini karena telah bersama-sama dalam waktu yang cukup lama dalam hal orientasi politik, seperti prinsip non-intervensi, kawasan bebas senjata nuklir, dan bebas dari pangkalan militer asing di kawasan.

>>> KTM Solutions Tekankan Keseimbangan Bisnis dan Talenta di Manager Fest 2026

Selain masalah koordinasi bilateral, hambatan teknis di lapangan juga masih membayangi arus perdagangan antarnegara Asia Tenggara.

Sekretaris Jenderal International Economic Association, Lili Yan Ing, menjabarkan sejumlah kendala struktural yang masih terjadi, mulai dari kebijakan non-tarif hingga aturan asal barang yang rumit.

Secara umum, negara-negara ASEAN memproduksi komoditas yang mirip sehingga menjadi pesaing alami.

Misalnya, Indonesia bersaing dengan Thailand di sektor pertanian, serta bersaing dengan Vietnam, Malaysia, dan Singapura di sektor elektronik.

Meski demikian, Lili menilai persaingan tersebut merupakan hal yang wajar asalkan terdapat penyelarasan kebijakan yang tepat antarpemerintah. Kompetisi ini sehat, namun membutuhkan sinkronisasi.

Lili menekankan pentingnya langkah konkret untuk mengharmonisasi standar dagang serta menyederhanakan aturan asal barang (rules of origin).

>>> APTISI dan SURGE Jalin Kerja Sama Digitalisasi 4.095 PTS di Indonesia

Terkait investasi, kerja sama yang meliputi aspek proteksi hingga promosi bersama perlu ditingkatkan untuk memperkuat posisi kawasan.