Penggunaan banyak obat secara bersamaan atau polifarmasi menjadi persoalan krusial dalam perawatan medis kelompok lanjut usia (lansia).

Kondisi ini umumnya dipicu oleh keberadaan beberapa penyakit kronis sekaligus pada satu pasien.

>>> J Trust Bank Luncurkan Tabungan Hijau untuk Restorasi Lingkungan

Penyakit seperti hipertensi, diabetes, gangguan jantung, hingga radang sendi memaksa lansia mengonsumsi berbagai jenis terapi obat dalam waktu yang sama.

Hal ini memicu tantangan tersendiri bagi pengelolaan kesehatan mereka.

World Health Organization (WHO) mengategorikan polifarmasi sebagai konsumsi rutin lima jenis obat atau lebih. Langkah terapi ini berpotensi meningkatkan efek samping sistemik dan interaksi obat yang tidak diinginkan.

Dampak buruk polifarmasi diperparah oleh penurunan fungsi organ vital seperti hati dan ginjal seiring bertambahnya usia.

Penurunan performa kedua organ tersebut menghambat proses metabolisme dan pembuangan sisa obat dari dalam tubuh.

Akibat penumpukan zat kimia, lansia menjadi sangat rentan mengalami intoksikasi atau gangguan kesehatan fatal lainnya.

National Institute on Aging mencatat efek samping ini memicu risiko jatuh, kebingungan, hingga penurunan daya ingat.

Gejala fisik seperti pusing, lemas, atau penurunan kesadaran sering kali diabaikan karena dianggap sebagai konsekuensi alami penuaan.

>>> Mojtaba Khamenei: Timur Tengah Tak Lagi Jadi Tameng Pangkalan Militer AS

Padahal, kondisi tersebut bisa jadi merupakan tanda klinis dari interaksi obat yang berbahaya.

Ancaman kesehatan juga muncul dari kebiasaan lansia mengonsumsi suplemen, obat bebas, atau ramuan herbal tanpa resep medis. Kombinasi produk mandiri dengan obat dokter dapat merusak efektivitas terapi utama.

Langkah Pencegahan dan Evaluasi Medis

American Geriatrics Society menekankan pentingnya peninjauan berkala terhadap seluruh daftar obat yang dikonsumsi pasien lansia.

Dokter perlu mengevaluasi urgensi setiap obat, melakukan penyesuaian dosis, atau mencari alternatif terapi yang lebih aman.

Di samping intervensi medis, peran serta aktif keluarga sangat dibutuhkan untuk meminimalkan risiko polifarmasi.

Pihak keluarga wajib memastikan lansia tidak mengubah dosis atau menghentikan konsumsi obat secara sepihak tanpa instruksi dokter.

Pengelolaan wadah obat yang sistematis dan pencatatan jadwal minum obat yang disiplin juga efektif mencegah kekeliruan konsumsi.

>>> Microsoft dan Alunjiva Indonesia Dorong Literasi AI Inklusif Lewat Program EQUAL

Para pakar menegaskan bahwa keberhasilan terapi lansia bergantung pada ketepatan dan keamanan pemberian obat.