Para astronom berhasil menemukan bukti kuat bahwa Bimasakti pernah melahap galaksi kerdil bernama Loki. Peristiwa kanibalisme kosmik ini terjadi sekitar 10 miliar tahun yang lalu.

Sisa-sisa reruntuhan kosmik dari peristiwa kuno ini memberikan perspektif baru bagi ilmuwan. Jejak tersebut teridentifikasi melalui keberadaan bintang-bintang purba.

>>> Film Fjord Raih Palme d'Or di Cannes Film Festival 2026

Studi yang dipublikasikan dalam jurnal Monthly Notices of the Royal Astronomical Society mengungkapkan penemuan 20 bintang purba miskin logam.

Bintang-bintang ini berada di area cakram galaksi dan diyakini sebagai sisa-sisa galaksi Loki.

Hancurnya galaksi Loki dipicu oleh tarikan gravitasi kuat dari Bimasakti. Peristiwa tersebut diperkirakan terjadi saat Bimasakti masih sangat muda.

Tim peneliti yang dipimpin Federico Cestito melacak bintang-bintang purba menggunakan data dari dua fasilitas canggih.

Fasilitas tersebut adalah teleskop Gaia milik Badan Antariksa Eropa (ESA) dan Canada-France-Hawaii Telescope.

Melalui analisis mendalam, tim mendeteksi bahwa bintang-bintang sisa galaksi Loki berjarak sekitar 7.000 tahun cahaya dari tata surya.

Seluruh bintang memiliki usia lebih dari 10 miliar tahun.

>>> Praktisi Hukum Prediksi Isi Perjanjian Pranikah Taylor Swift-Travis Kelce

Keunikan utama penemuan ini terletak pada pola pergerakan bintang-bintangnya. Arah orbit dari 20 bintang purba tersebut saling berlawanan satu sama lain.

Para ilmuwan menyimpulkan bahwa skenario orbit yang tidak biasa ini hanya bisa terjadi melalui satu cara.

Tabrakan besar harus berlangsung saat Bimasakti masih kecil dan gravitasinya belum sekuat sekarang.

Identifikasi galaksi Loki menambah daftar panjang objek yang pernah dikonsumsi Bimasakti. Sebelumnya, ilmuwan juga menemukan bukti penggabungan dengan galaksi lain.

Bimasakti diketahui pernah menyatu dengan galaksi raksasa bernama Gaia-Sausage-Enceladus. Peristiwa itu diperkirakan terjadi 8 hingga 10 miliar tahun silam.

Melalui kanibalisme kosmik, Bimasakti kini berkembang masif hingga diameter 100.000 tahun cahaya. Galaksi ini memiliki populasi sekitar 400 miliar bintang.

>>> Ahli Jepang Soroti Kemiripan Megathrust Indonesia dengan Nankai Trough

Aktivitas melahap galaksi yang lebih kecil menjadi kunci bagi astronom untuk memahami evolusi kosmik. Proses ini menjelaskan bagaimana galaksi spiral raksasa mencapai ukuran masif seperti sekarang.