Potensi kemandirian mineral Amerika Serikat terbuka lebar setelah penemuan cadangan litium dalam jumlah masif di Pegunungan Appalachian.

Lembaga U. S.

>>> Erin Serahkan Bukti Rekaman CCTV Usai Bantah Tuduhan Aniaya Eks ART

Geological Survey (USGS) mengungkapkan kawasan tersebut menyimpan sekitar 2,3 juta metrik ton litium yang belum terjamah.

Berdasarkan kalkulasi New York Post, nilai temuan ini diperkirakan mencapai USD 65 miliar atau setara dengan Rp1.150 triliun.

Konsentrasi litium tersebar di beberapa titik strategis sepanjang gugusan pegunungan Pantai Timur AS, terutama di wilayah Carolina, Maine, dan New Hampshire.

Jika estimasi tersebut akurat, pasokan ini dinilai mampu memenuhi kebutuhan impor litium AS selama 328 tahun berdasarkan tingkat impor tahun 2025.

Direktur USGS, Ned Mamula, menyatakan penelitian ini menunjukkan Appalachian menyimpan cukup litium untuk membantu memenuhi kebutuhan negara yang terus meningkat.

“Ini kontribusi besar bagi ketahanan mineral AS di saat permintaan litium global melonjak tajam,” ujar Mamula.

>>> Bulan Menjauh dari Bumi, Gerhana Matahari Total Bisa Hilang

Saat ini, Australia menjadi produsen litium terkemuka dunia dengan sumbangan hampir sepertiga dari total pasokan global.

China menyusul dengan tingkat pemurnian dan konsumsi litium yang terus meningkat seiring pesatnya penerapan teknologi bertenaga baterai, termasuk kendaraan listrik.

Jumlah litium di Appalachian diperkirakan dapat memberi daya pada 1,6 juta baterai skala jaringan, 130 juta kendaraan listrik, 180 miliar laptop, dan 500 miliar ponsel.

USGS memproyeksikan kapasitas produksi litium global akan berlipat ganda pada tahun 2029 akibat meningkatnya permintaan.

Untuk mengukur kandungan litium, ilmuwan USGS menggunakan peta geologi, sejarah tektonik, pengambilan sampel geokimia, survei geofisika, dan catatan keterdapatan mineral.

Data kemudian diproses melalui pemodelan komputer, menghasilkan estimasi 2,3 juta metrik ton dengan interval kepercayaan 50%.

>>> Emily in Paris Berakhir di Season 6, Syuting di Yunani

Mamula menambahkan bahwa AS adalah produsen litium dominan tiga dekade lalu, dan penelitian ini menyoroti potensi untuk merebut kembali kemandirian mineral.