Penerbit Moooi Pustaka untuk pertama kalinya menghadirkan karya penulis asal Austria, Alexander Lernet-Holenia, ke dalam bahasa Indonesia.

Novel pertama dari sastrawan aliran realisme magis tersebut diterbitkan dengan judul Baron Bagge.

>>> Riset: Gen Z Paling Siap Pakai AI, Tapi Pelatihan Minim

Moooi Pustaka sendiri merupakan sebuah penerbitan yang diinisiasi oleh penulis Eka Kurniawan.

Tujuan pendirian penerbit ini adalah untuk memasyarakatkan berbagai karya sastra dunia yang diterjemahkan langsung dari bahasa aslinya.

Proses penerjemahan novel Baron Bagge dikerjakan secara langsung dari bahasa Jerman oleh Tiya Hapitiawati.

Kisah dalam novel ini berpusat pada tokoh Baron Bagge yang menghadapi rentetan peristiwa tidak biasa di tengah berkecamuknya medan perang.

Diskusi dan Tantangan Penerjemahan

Dinamika penerjemahan buku ini diurai dalam sebuah kegiatan diskusi yang berlangsung di Kedutaan Austria, Menteng, Jakarta Pusat, pada Kamis (21/5/2026).

Tiya Hapitiawati menjabarkan tantangan tersendiri dalam merangkai jembatan bahasa agar nuansa masa lampau tetap dapat dipahami pembaca modern.

"Proses penerjemahannya harus tetap membangun jembatan antara masa lalu dan masa kini," ujarnya.

Alexander Lernet-Holenia, yang lahir pada 21 Oktober 1897, aktif melahirkan karya sastra menggunakan bahasa Jerman.

>>> HAS Pictures Somasi Ratu Sofya karena Tolak Promosi Film Dosa Penebusan

Dirinya menempati posisi penting dalam konstelasi sastra dunia, bersanding dengan nama besar lain dalam genre realisme magis seperti Gabriel García Márquez.

Analisis dan Tafsir Makna Karya

Karakteristik kepenulisan Alexander Lernet-Holenia turut dibedah oleh Lily Tjahjandari, seorang pengajar bahasa Jerman dari Universitas Indonesia.

Lily memberikan catatan mengenai fokus utama yang selalu diangkat oleh sang penulis dalam karyanya.

"Tema sentral novel ini adalah batas yang kabur antara kehidupan dan kematian," lanjutnya.

Menurut penjelasan Lily, narasi yang disajikan dalam novel ini membuka ruang bagi munculnya interpretasi yang sangat beragam dari para pembaca.

Ketidakpastian mengenai kenyataan atau ilusi menjadi daya tarik utama dari kisah Baron Bagge.

"Dalam karya ini tidak secara eksplisit mengonfirmasi apakah Bagge berjuang dalam bencana militer atau hanya membayangkan berjuang hingga momen terakhir," lanjutnya.

Melalui jalinan ceritanya, Baron Bagge juga memotret trauma mendalam yang dirasakan oleh sebuah generasi akibat perang, sekaligus merekam cara mereka memaknai rasa cinta.

>>> Kim Jae Joong Hentikan Program Pembekuan Sperma karena Aturan Penyimpanan

Agenda diskusi mengenai buku ini diakhiri dengan sesi pembacaan cuplikan novel terjemahan oleh Eka Kurniawan.