Produsen kendaraan listrik asal Vietnam, VinFast Auto, mengumumkan strategi pelepasan dua pabrik utamanya dalam kesepakatan bernilai miliaran dolar AS.

Langkah ini memicu analisis terkait tata kelola korporasi di bawah konglomerasi Vingroup milik miliarder Pham Nhat Vuong.

>>> Fiat Pandina Penerus Punya Tiga Kursi, Sopir di Tengah

Melalui kesepakatan yang diumumkan pekan lalu, VinFast melepas bisnis manufakturnya di Vietnam dengan nilai mencapai 13,3 triliun dong Vietnam atau sekitar 506 juta dolar AS (Rp 8,95 triliun).

Kelompok investor yang bertindak sebagai pembeli juga bersedia mengambil alih liabilitas utang senilai sekitar 6,9 miliar dolar AS (Rp 122 triliun).

Transformasi ke Model Asset Light

Setelah transaksi rampung, operasional VinFast akan bertransformasi menggunakan skema "ringan aset" atau asset light.

Fokus korporasi ke depan akan bergeser pada riset dan pengembangan produk, bukan mengoperasikan fasilitas produksi besar secara mandiri.

Vingroup menjelaskan bahwa restrukturisasi ini berpotensi membersihkan posisi keuangan VinFast dari beban utang. Pengeluaran di sektor produksi massal selama ini diidentifikasi sebagai salah satu pemicu utama kerugian finansial.

Pada laporan keuangan tahun lalu, VinFast menanggung kerugian bersih sekitar 3,9 miliar dolar AS (Rp 68,9 triliun).

Meskipun restrukturisasi domestik berjalan, operasional manufaktur global di luar Vietnam dipastikan tetap berjalan normal.

"Sementara di Vietnam, Future akan memproduksi kendaraan untuk VinFast melalui skema contract manufacturing," ujar Vice CEO VinFast Thai Thi Thanh Hai dalam siaran pers, Rabu (13/5/2026).

Pendekatan asset-light ini dinilai selaras dengan tren global.

Korporasi dapat mengalokasikan sumber daya pada inovasi teknologi, pembuatan perangkat lunak, perancangan produk, dan penguatan merek di pasar internasional.

Skema ini dipandang krusial bagi industri kendaraan listrik yang menuntut investasi besar pada teknologi baterai dan kendaraan otonom.