Produsen otomotif asal Vietnam, VinFast, membuka peluang untuk menaikkan harga jual kendaraan di Indonesia.

Langkah ini dipicu oleh pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS yang mencapai Rp17.700.

>>> Astra Daihatsu Tebar Hadiah Mobil dan Motor Lewat Promo Mid Year Surprise Deals 2026

Pelemahan rupiah berdampak langsung pada kenaikan harga bahan baku kendaraan. Pihak manajemen VinFast mengonfirmasi bahwa penyesuaian harga tetap terbuka jika situasi ekonomi global terus berlanjut.

CEO VinFast Indonesia, Kariyanto Hardjosoemarto, menjelaskan bahwa perusahaannya terus memantau fenomena global. "Tentu itu sebagai fenomena global yang terus kami cermati.

Dan tentu kalau harga bahan bakunya meningkat harus dilakukan penyesuaian harga," ujarnya.

Meski demikian, VinFast menegaskan bahwa perubahan harga belum akan diterapkan dalam waktu dekat. "Tapi status per hari ini kami belum akan melakukan penyesuaian harga terlebih dahulu.

Kami masih memantau seberapa besar volatilitas nilai tukar baik rupiah, USD, dong, dan sebagainya," tambah Kariyanto.

>>> PT BYD Motor Indonesia Siapkan Peluncuran SUV Denza B5

Aspek impor untuk sejumlah komponen dasar menjadi alasan utama VinFast berhati-hati. Meskipun telah memiliki fasilitas perakitan lokal di Subang, Jawa Barat, perusahaan masih mengimpor bahan baku dari Vietnam.

"Karena memang banyak aspek, misalnya kita impor dari Vietnam, bahan baku dan lain sebagainya, kita masih mencermati," tutur Kariyanto.

Manajemen tidak ingin mengambil keputusan tergesa-gesa karena potensi dampak berantai yang besar.

"Karena begitu kita melakukan penyesuaian harga, itu banyak efek turunannya, ke supplier, dan berbagai pihak yang terlibat. Sehingga kami tidak ingin melakukan keputusan yang terburu-buru," kata Kariyanto.

>>> Periklindo Targetkan Transaksi PEVS 2026 Capai Rp 500 Miliar

Potensi revisi harga ini juga dihadapi oleh sejumlah Agen Pemegang Merek (APM) lain di Indonesia, seperti Chery, BYD, dan Indomobil Group.