Pelemahan nilai tukar rupiah mendorong lonjakan biaya pembangunan infrastruktur telekomunikasi dan pengadaan perangkat teknologi informasi. Kondisi ini dipicu oleh tingginya ketergantungan pada komponen impor.

Ketua Umum Asosiasi Penyelenggara Jaringan Telekomunikasi (Apjatel) Jerry M Swandy menyatakan mayoritas perangkat IT dan penunjang jaringan masih didatangkan dari luar negeri.

>>> Meta PHK 8.000 Karyawan Global, Fokus pada Investasi AI

Lonjakan biaya pengadaan tidak terhindarkan saat nilai tukar rupiah merosot terhadap mata uang asing.

Dampak pada Berbagai Perangkat

Kenaikan harga berpotensi melanda berbagai perangkat keras seperti laptop, komputer personal, server, penyimpanan data, hingga alat jaringan berupa router, switch, dan firewall.

Komponen lain seperti chipset, modul memori, dan power supply unit (PSU) juga rentan terhadap fluktuasi nilai tukar.

Jerry menjelaskan bahwa meskipun rantai pasok global mulai membaik, pelemahan mata uang tetap memengaruhi struktur biaya industri. Pelaku usaha perlu melakukan langkah mitigasi agar dampaknya bisa ditekan.

Untuk mengantisipasi fluktuasi jangka pendek, Apjatel menyarankan optimalisasi stok, perencanaan pengadaan matang, serta negosiasi skema pembayaran yang lebih stabil dengan vendor global.

Penggunaan komponen lokal yang memenuhi standar industri juga terus didorong.

Pembengkakan biaya sebesar 5-12 persen terjadi pada proyek pembangunan jaringan baru maupun ekspansi kapasitas.

>>> Alarm Azan di HP Bikin Pesawat Southwest Airlines Mendarat Darurat

Kenaikan harga ini berdampak langsung pada material impor seperti kabel fiber optik, splitter, closure, drop core, hingga perangkat aktif seperti OLT, ONT/ONU, ODF, dan ODC.

Jerry menambahkan bahwa pelemahan rupiah otomatis meningkatkan biaya proyek. Perkiraan pelaku industri menunjukkan potensi penyesuaian harga tergantung vendor, negara asal produk, dan metode pembayaran.

Kenaikan pengeluaran juga merembet ke biaya jasa konstruksi jaringan dan operasional lapangan. Kontraktor menyesuaikan tarif kerja untuk pekerjaan seperti fiber roll-out, perawatan, hingga instalasi di sisi pelanggan.

Jerry M Swandy menegaskan bahwa lonjakan biaya pengadaan tidak terhindarkan saat nilai tukar rupiah merosot terhadap mata uang asing.

"Ketika kurs melemah, tekanan biaya pengadaan otomatis meningkat," katanya.

Ia juga menyebutkan bahwa meskipun rantai pasok global mulai membaik, pelemahan mata uang tetap dapat memengaruhi struktur biaya industri.

>>> XLSmart Integrasikan 70% Jaringan Pascamerger, Target 5G 88 Kota

"Karena itu pelaku usaha perlu melakukan langkah mitigasi agar dampaknya bisa ditekan," ujar Jerry.