Perajin tempe di Yogyakarta mulai memperkecil ukuran tempe yang diproduksi.

Langkah ini diambil karena harga kedelai melambung tinggi.

>>> 25+ Contoh Ucapan Selamat Hari Buku Nasional 2026 untuk Caption Media Sosial

Penyebab utamanya adalah melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar AS.

Dampak Pelemahan Rupiah pada Harga Kedelai

Indonesia masih sangat bergantung pada impor kedelai.

Sebagian besar kedelai didatangkan dari Amerika Serikat.

Ketika rupiah melemah, biaya impor otomatis naik.

Akibatnya, harga kedelai di pasar domestik ikut melonjak.

Strategi Perajin Tempe di Yogyakarta

Alih-alih menaikkan harga jual, perajin memilih mengurangi ukuran tempe.

Dengan cara ini, konsumen tetap bisa membeli dengan harga yang sama.

Namun, volume tempe yang didapat menjadi lebih sedikit.

Keputusan ini diambil agar usaha kecil tetap berjalan.

Banyak perajin yang sudah mulai menerapkan strategi ini sejak beberapa pekan terakhir.

>>> Alasan Penundaan Nobar Film Pesta Babi di Unpad Meski Ada Izin

Reaksi Konsumen dan Pasar

Sebagian konsumen memahami situasi yang dihadapi perajin.

Mereka tetap membeli tempe meski ukurannya lebih kecil.

Namun, ada juga yang mengeluhkan perubahan ini.

Pasar tradisional di Yogyakarta mencatat penurunan volume penjualan tempe.

Meski begitu, permintaan masih cukup stabil.

Harapan Perajin ke Depan

Perajin berharap harga kedelai segera stabil.

Mereka juga meminta pemerintah mengendalikan harga bahan baku.

Jika harga kedelai terus naik, bukan tidak mungkin ukuran tempe akan semakin kecil.

Bahkan, beberapa perajin terpaksa mengurangi produksi.

>>> Jadwal Live Streaming Chelsea vs Man City Final FA Cup 2026 Malam Ini

Kondisi ini mengancam kelangsungan usaha mikro di sektor pangan tradisional.