Produsen otomotif Chery mulai mencermati rencana pemerintah yang akan memberikan insentif lebih besar bagi mobil listrik berbasis baterai nikel.

Namun, langkah strategis belum diambil karena mayoritas produk mereka saat ini masih menggunakan baterai Lithium Ferro Phosphate (LFP).

>>> BYD Pamerkan Seal 6 DM, Sedan Plug-in Hybrid Terbaru di Indonesia

Presiden Direktur Chery Group Indonesia, Zeng Shuo, menyatakan bahwa keputusan final masih menunggu diterbitkannya regulasi resmi. Pihaknya mengakui belum ada kepastian mengenai skema final aturan insentif tersebut.

"Kita belum ada aturan fix. Masih belum punya aturan pasti.

Kita juga masih follow up, looking closely, kalau tim kita juga masih analisis," ujar Zeng Shuo.

Pemerintah Siapkan Insentif Berbeda

Kementerian Keuangan menjelaskan bahwa formulasi insentif baru ini dirancang untuk membedakan antara kendaraan listrik berbasis nikel dan non-nikel.

Kebijakan ini diambil untuk mendorong hilirisasi komoditas tambang di dalam negeri.

"Itu untuk yang utamanya EV. Bukan hybrid.

Jadi yang baterainya berdasarkan nikel dan non-nikel akan berbeda skemanya. Tapi yang itu nanti (dijelaskan) Menteri Perindustrian," ujar Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa.

Program ini diproyeksikan mampu memperkuat ekosistem industri baterai nasional dalam jangka panjang.

Pemerintah berharap pasokan nikel yang melimpah di Indonesia dapat diserap secara optimal oleh pabrikan kendaraan listrik lokal.

"Kenapa saya pakai nikel yang besar subsidinya, karena supaya baterai kita kepakai," ucap Purbaya.

>>> Valentino Rossi Puji Kemenangan Dramatis Fabio Di Giannantonio di Catalunya

Chery saat ini masih memantau perkembangan situasi dan melakukan kajian mendalam terkait dampak kebijakan tersebut terhadap lini produk mereka.

Komunikasi intensif dengan pemerintah terus dilakukan untuk mendapatkan kepastian peta jalan industri otomotif nasional.