Jakarta, Mei 2025 – Indonesia menjadi negara dengan tingkat adopsi kecerdasan buatan (AI) tertinggi di dunia. Sebanyak 92% pekerja berpengetahuan telah menggunakan AI generatif dalam pekerjaan sehari-hari.

Meski demikian, Indonesia diprediksi kekurangan 3 juta talenta digital pada 2030. Dua kondisi ini bukanlah kontradiksi, melainkan dua sisi dari tantangan yang sama.

>>> Krisis Chip Global Hambat Pasokan Komponen Asus di Indonesia

Indonesia sangat cepat mengadopsi teknologi, tetapi masih tertinggal dalam membangun sumber daya manusia yang mampu merancang, mengembangkan, dan mengelola teknologi tersebut.

Kesenjangan ini menjadi perhatian serius bagi dunia pendidikan dan industri.

Pendidikan Tinggi Beradaptasi

School of Computer Science Binus University merespons pergeseran ini dengan pendekatan yang menempatkan mahasiswa berhadapan langsung dengan kompleksitas industri sejak awal studi.

Konsentrasi seperti AI-driven development dan keamanan siber dirancang bersama lebih dari 2.200 mitra industri aktif.

Hal ini memastikan kurikulum terus diperbarui sesuai perubahan kebutuhan pasar.

Dean School of Computer Science Binus University Derwin Suhartono menjelaskan, mahasiswa tidak hanya belajar teori, tetapi juga dibiasakan bekerja seperti engineer.

Mereka belajar mengidentifikasi masalah tanpa solusi buku teks, memilih pendekatan dari berbagai kemungkinan, dan mempertanggungjawabkan keputusan teknis dalam konteks bisnis nyata.

>>> Google Perluas Quick Share ke HP China untuk Berbagi File ke iPhone

“Kami tidak hanya berfokus pada kemampuan teknis,” kata Derwin, dikutip Selasa (19/5/2026).

“Kami ingin membentuk talenta yang mampu memimpin transformasi digital dan menciptakan inovasi,” lanjutnya. Komitmen ini mendapat pengakuan eksternal dari industri global.

Dalam QS World University Rankings by Subject 2026 bidang Computer Science and Information Systems, School of Computer Science Binus University meraih posisi kedua terbaik di Indonesia secara keseluruhan.

Alumni program ini kini berkarier sebagai software engineer, AI engineer, data scientist, cybersecurity specialist, dan product manager.

Mereka tersebar di perusahaan teknologi nasional maupun multinasional di berbagai negara, termasuk Singapura, Amerika Serikat, Belanda, dan Australia.

“Celah 3 juta talenta digital pada 2030 adalah tantangan yang membutuhkan institusi pendidikan yang mampu menghasilkan lulusan dengan kedalaman kompetensi yang tepat,” kata Derwin.

Derwin menambahkan, lulusan yang dihasilkan harus memiliki rekam jejak yang bisa diverifikasi oleh industri.

>>> Komdigi Kaji Kewajiban Platform Digital Global Buka Kantor di Indonesia

Hal ini menjadi kunci untuk mengisi kesenjangan talenta digital yang diprediksi mencapai 3 juta pada 2030.