Pada 11 Juni 1927 hingga awal 1929, gunung baru ini secara perlahan muncul ke permukaan.

Lahir secara resmi pada 20 Januari 1929, ia dinamakan Anak Krakatau atau “Child of Krakatoa”.

Kenapa bisa muncul? Penyebab utamanya adalah aktivitas magma yang masih aktif di bawah kaldera.

Meski letusan 1883 telah mengosongkan sebagian besar ruang magma dangkal, pasokan magma dari kedalaman terus berlanjut.

Wilayah Selat Sunda terletak pada zona subduksi lempeng Australia yang menunjam di bawah lempeng Sunda (Eurasia).

Proses subduksi ini menyebabkan batuan lempeng meleleh menjadi magma, yang kemudian naik ke permukaan melalui zona lemah di kaldera.

Anak Krakatau tumbuh sangat cepat. Rata-rata pertumbuhannya sekitar 4-7 meter per tahun, bahkan pernah mencapai 13 cm per minggu pada dekade 1950-an.

Hingga awal 2018, tingginya mencapai lebih dari 300 meter di atas permukaan laut dengan volume tubuh mencapai sekitar 5,5 km³.

Material yang dikeluarkan berupa lava, abu, dan bom vulkanik terus menumpuk, membangun kerucut stratovolcano baru.

>>> Cara Cek Bansos PKH 2026 Lewat HP dengan Mudah dan Cepat

Faktor Geologi Pendukung

Selain subduksi, ada beberapa faktor lain. Lokasi di persilangan Jawa-Sumatra membuat tekanan magma lebih kuat.