250 Tahun Kemerdekaan AS Diwarnai Protes dan Gugatan Suku Indian

Amerika Serikat merayakan 250 tahun kemerdekaannya pada 4 Juli 2026 dengan berbagai acara megah di National Mall, Washington DC.
Presiden Donald Trump memimpin perayaan yang disebut Semiquincentennial, termasuk pidato kenegaraan dan kembang api terbesar dalam sejarah.
>>> Perempat Final Piala Dunia 2026: Prancis vs Maroko, Laga Saling Serang
Namun, di balik kemeriahan, suku Indian kembali menyuarakan penolakan terhadap perayaan tersebut.
Boikot NCAI
National Congress of American Indians (NCAI) memboikot perayaan dan menarik diri dari kemitraan dengan komite resmi America250.
Mereka menilai konten pendidikan yang disusun terlalu berpusat pada pandangan kolonial kulit putih.
NCAI sebelumnya bergabung pada 2024 untuk memastikan sejarah masyarakat adat dimasukkan, tetapi kemitraan memudar setelah Trump berkuasa.
Sejarah Kelam Kolonialisme
Gugatan suku Indian bukan hal baru. Sejak kedatangan bangsa Eropa, penduduk asli Amerika mengalami pengusiran paksa dan pembunuhan.
Helen Hunt Jackson dalam bukunya "A Century of Dishonor" (1888) menggambarkan pengusiran paksa dan pengabaian kejam terhadap suku Indian.
>>> KPK Temukan 55 Kg Platinum Senilai Rp40 Miliar di Mobil Bupati Langkat
Ward Churchill menyebut pengurangan populasi dari 12 juta jiwa pada 1500 menjadi 237.000 pada 1900 sebagai genosida besar-besaran.
David E. Stannard menyebutnya sebagai holocaust manusia terburuk yang merenggut puluhan juta jiwa selama empat abad.
Pemindahan paksa suku Cherokee pada 1838, dikenal sebagai Trail of Tears, menewaskan ribuan orang.
Undang-Undang Dawes 1887 memberi wewenang menjual lebih dari 90 juta hektar tanah reservasi kepada non-Pribumi.
Pada 1924, Undang-Undang Kewarganegaraan Indian menjadikan penduduk asli sebagai warga negara AS.
Gerakan Indian Amerika (AIM) muncul pada 1968 untuk memperjuangkan hak kedaulatan dan hak sipil penduduk asli.
>>> Mbappe Nyaris Frustrasi, Sukses Cetak Gol Penalti Bawa Prancis ke Perempat Final
Hingga kini, suku Indian masih menghadapi ketidakadilan, termasuk tingkat pemenjaraan yang lebih tinggi dibanding rata-rata nasional.
Update Terbaru
6 Tips Memvalidasi Perasaan Anak agar Lebih Dipahami
Minggu / 05-07-2026, 08:42 WIB
Mbappe Cetak Rekor Langka Piala Dunia, Tak Bisa Ditiru Ronaldo-Messi
Minggu / 05-07-2026, 08:42 WIB
Kapolri Lantik Enam Kapolda dan Kakorlantas Polri Baru
Minggu / 05-07-2026, 08:42 WIB
Mobil Elektrifikasi Dinilai Lebih Berkelanjutan Dibanding Program B50
Minggu / 05-07-2026, 08:42 WIB
Mbappe Usai Kalahkan Paraguay: Kami Juga Tahu Cara Bermain Kasar
Minggu / 05-07-2026, 08:42 WIB
Iran Cabut Blokade Selat Hormuz, Beri Keringanan Kapal Negara Sahabat
Minggu / 05-07-2026, 08:42 WIB
Transmart Full Day Sale Hari Ini: Diskon hingga 50% + 20% untuk Beragam Produk
Minggu / 05-07-2026, 08:38 WIB
25 Kode Redeem FF Aktif 5 Juli 2026, Buruan Klaim Bundle BR Elite dan Item Premium
Minggu / 05-07-2026, 08:38 WIB
Update Harga HP Samsung Juli 2026: Dari Seri Termurah hingga Flagship
Minggu / 05-07-2026, 08:38 WIB
Paul Pelosi Terancam Dakwaan Usai Tabrak Lari di California
Minggu / 05-07-2026, 08:35 WIB
Spencer Arrighetti Tampil Gemilang Meski Astros Kalah dari Rays
Minggu / 05-07-2026, 08:35 WIB
Ratusan Anggota Patriot Front Berdemo di Washington pada Hari Kemerdekaan
Minggu / 05-07-2026, 08:33 WIB
Patrick Ewing Bergabung dengan Washington Wizards sebagai Asisten Pelatih
Minggu / 05-07-2026, 08:33 WIB
Springfield Rayakan Hari Kemerdekaan dengan Simfoni dan Pesta Kembang Api
Minggu / 05-07-2026, 08:32 WIB







