Direktur Eksekutif Koalisi Penghapusan Bensin Bertimbal (KPBB) menilai program kendaraan elektrifikasi merupakan solusi jangka panjang yang lebih berkelanjutan dibandingkan Program Biodiesel B50.

Hal ini disampaikan Ahmad Safrudin dalam acara Clean Fuel Talk di Jakarta, Jumat (3/7).

>>> Mbappe Usai Kalahkan Paraguay: Kami Juga Tahu Cara Bermain Kasar

Menurut Ahmad, implementasi B50 memang bagian dari transisi energi yang sulit dihindari. Namun, penggunaan biodiesel harus memperhatikan spesifikasi teknis kendaraan agar tidak merusak mesin.

Ia menambahkan bahwa kendaraan diesel Euro 4 yang diproduksi mulai 2022 umumnya tidak direkomendasikan menggunakan B50 atau bahan bakar di luar spesifikasi pabrikan.

Elektrifikasi sebagai Agenda Nasional

Ahmad menilai kendaraan elektrifikasi seperti hybrid, plug-in hybrid, dan mobil listrik harus menjadi pilihan pemerintah. Program ini dinilai mampu memperkuat ketahanan energi dan menekan emisi transportasi.

>>> Iran Cabut Blokade Selat Hormuz, Beri Keringanan Kapal Negara Sahabat

"Program kendaraan listrik sudah menjadi agenda nasional sehingga perlu terus dipercepat," ujarnya.

Sementara itu, Kementerian ESDM menegaskan akan mengawasi mutu B50 secara ketat. Pelaku usaha yang tidak memenuhi standar kualitas terancam sanksi administratif hingga pencabutan izin usaha.

Direktur Teknik dan Lingkungan Migas Kementerian ESDM Joko Hadi Wibowo mengatakan pengawasan mutu penting agar implementasi B50 berjalan sesuai tujuan.

>>> Transmart Full Day Sale Hari Ini: Diskon hingga 50% + 20% untuk Beragam Produk

Pemerintah berharap manfaat B50 lebih besar dibanding dampak negatifnya. Evaluasi kebijakan akan dilakukan secara berkala.