Gelombang panas ekstrem yang dipicu perubahan iklim dan ancaman badai petir mengganggu perayaan ulang tahun ke-250 kemerdekaan Amerika Serikat pada Sabtu, 4 Juli 2026.

Suhu mencapai 90-an hingga 100 derajat Fahrenheit memaksa pembatalan parade pagi di Washington, DC, dan menunda pembukaan Great American State Fair.

>>> Kirgizstan Resmikan Tamchy SFIT, Kawasan Pajak 0% Selama 49 Tahun

Ribuan warga di New York mengalami pemadaman listrik, sementara seorang pria berusia 68 tahun di Pennsylvania meninggal akibat serangan jantung yang dipicu kelelahan panas.

CDC melaporkan tingkat penyakit terkait panas yang sangat tinggi di Timur Laut, di mana lebih dari tiga lusin rekor suhu harian terpecahkan sejak Kamis.

Kontras dengan Perayaan Sebelumnya

Presiden John Adams pada 1776 meramalkan kemerdekaan akan dirayakan sebagai "festival ulang tahun yang agung" oleh generasi mendatang.

>>> Prospek Mobil Listrik di Indonesia 2026: Infrastruktur dan Insentif Dorong Pertumbuhan

Lima puluh tahun kemudian, putranya John Quincy Adams memimpin "jubilee kemerdekaan" pada 1826, mencatat prosesi militer sukarela di Lafayette Square dan pembacaan Deklarasi Kemerdekaan di Capitol.

Pada peringatan 100 tahun 1876, Presiden Ulysses Grant menyerukan perlindungan "kebebasan berpikir, berbicara, dan pers" serta "hak dan hak istimewa yang sama bagi semua orang" di Des Moines.

Berbeda dengan suhu 76 derajat yang dicatat Thomas Jefferson di Philadelphia pada 1776, peringatan ke-250 tahun ini mencapai 100 derajat, menyamai rekor seabad lalu.

>>> Spanyol Usung Misi Balas Dendam saat Jumpa Portugal di 16 Besar Piala Dunia 2026

Para ilmuwan dari World Weather Attribution menyatakan pola cuaca ekstrem ini hampir mustahil terjadi tanpa polusi bahan bakar fosil.