Pakistan Hadapi Tantangan Keamanan Pangan usai Penolakan Beras oleh UE
Pemerintah Bangladesh bersiap mengimpor 50.000 metrik ton beras dari Pakistan melalui skema kerja sama antarpemerintah (G2G).
Kesepakatan itu dijadwalkan ditandatangani pada pekan pertama Juli 2026 sebagai bagian dari upaya memperkuat cadangan pangan nasional dan menjaga stabilitas harga beras.
>>> Denny Hamlin Raih Pole Position di Chicagoland Speedway, Kalahkan Kyle Larson
Namun, rencana ini memicu perhatian publik karena sejumlah pengiriman beras Pakistan sebelumnya pernah ditolak Uni Eropa akibat tidak memenuhi standar keamanan pangan.
Residu Pestisida dan Aflatoksin Jadi Penyebab Penolakan
Salah satu penyebab utama penolakan adalah ditemukannya residu pestisida yang melebihi batas maksimum residu (MRLs) yang diizinkan Uni Eropa.
Uni Eropa menerapkan regulasi pestisida paling ketat di dunia. Setiap produk pangan impor harus melalui pengujian laboratorium.
Selain residu pestisida, otoritas Eropa juga pernah menemukan kontaminasi aflatoksin pada beberapa pengiriman beras Pakistan.
Aflatoksin adalah racun alami dari jamur yang dapat berkembang akibat penyimpanan atau pengangkutan yang tidak memadai. Paparan jangka panjang dapat merusak hati dan meningkatkan risiko kanker.
Tidak semua penolakan terkait kontaminasi. Sebagian pengiriman ditolak karena masalah dokumentasi, pelabelan, atau ketertelusuran.
Bangladesh Diminta Perketat Pengawasan
Meski ada riwayat penolakan, pemerintah Bangladesh tetap memandang impor beras dari Pakistan sebagai langkah penting untuk menjaga stok nasional dan menstabilkan harga.
Pakistan menawarkan harga ekspor yang kompetitif dibandingkan negara pemasok lain.
>>> Regulator Tarik 100.000 Kembang Api Winco Jelang 4 Juli
Para ahli keamanan pangan mengingatkan bahwa harga bukan satu-satunya pertimbangan. Setiap pengiriman perlu menjalani pengujian laboratorium menyeluruh, termasuk untuk residu pestisida, aflatoksin, dan logam berat.
Verifikasi mutu secara independen juga dinilai penting, terutama untuk produk dari rantai pasok yang pernah menjadi perhatian regulator internasional.
Update Terbaru
Prancis Kesulitan Tembus Pertahanan Paraguay di Babak Pertama
Minggu / 05-07-2026, 05:36 WIB
Kisah Menteri Italia Mundur karena Terlibat Organisasi Kriminal
Minggu / 05-07-2026, 05:36 WIB
Pelatih Maroko Puji Amukan Timnya di Babak Kedua Lawan Kanada
Minggu / 05-07-2026, 05:36 WIB
5 Tanda Orang Tua Alami Parenting Burnout Tanpa Disadari
Minggu / 05-07-2026, 05:36 WIB
Maliq & D'Essentials Terharu Nonton Musikal Senja Teduh Pelita
Minggu / 05-07-2026, 05:36 WIB
Jadwal Siaran Langsung Brasil vs Norwegia di Babak 16 Besar Piala Dunia 2026
Minggu / 05-07-2026, 05:36 WIB
Delicious in Dungeon Season 2 Tayang Oktober 2027 Eksklusif di Netflix
Minggu / 05-07-2026, 05:35 WIB
Gelombang Panas dan Kelembaban Ekstrem Pecahkan Rekor di Wilayah Timur Laut AS
Minggu / 05-07-2026, 05:32 WIB
FIFA Rayakan HUT ke-250 AS di Philadelphia Sebelum Laga Piala Dunia
Minggu / 05-07-2026, 05:32 WIB
Michael Olise Dekati Rekor Assist Piala Dunia, Prancis Hadapi Paraguay
Minggu / 05-07-2026, 05:28 WIB
Boston Rayakan 250 Tahun AS dengan Konser dan Parade Bersejarah
Minggu / 05-07-2026, 05:27 WIB
Haru Pemakaman Ali Khamenei, Pelayat Tempuh 530 Km
Minggu / 05-07-2026, 05:27 WIB
FIFA Pertahankan Jadwal Kickoff Inggris vs Meksiko di Piala Dunia
Minggu / 05-07-2026, 05:23 WIB
Amerika Beri Iran Waktu Satu Minggu untuk Berkabung Sebelum Negosiasi
Minggu / 05-07-2026, 05:23 WIB







