Personel Maliq & D'Essentials mengungkapkan perasaannya setelah menonton pertunjukan perdana teater musikal Senja Teduh Pelita. Musikal ini diadaptasi dari lagu-lagu grup musik yang telah terbentuk sejak 2002 tersebut.

Mereka mengaku tidak menyangka lagu-lagu lawas yang telah belasan tahun diciptakan berhasil divisualisasikan dalam kisah perjuangan anak-anak. Kisah tersebut berfokus pada harapan, keluarga, dan masa depan bumi.

>>> Jadwal Siaran Langsung Brasil vs Norwegia di Babak 16 Besar Piala Dunia 2026

"Terharu banget bahwa apa yang kami kerjakan selama ini, umurnya bisa lebih panjang lagi, bisa dinikmatin dalam bentuk lain," kata Indah setelah menonton musikal pada Jumat (3/7).

"Memang itu salah satu tujuan kami, dengan adanya musikal seni teater Indonesia ini, kami pengin karya-karya kita gak berhenti di situ saja," tuturnya.

Sang drummer Widi Puradiredja juga terlihat menangis dalam sejumlah adegan pertunjukan.

Sebagai pencipta sejumlah lagu Maliq D'Essentials, ia mengaku tersentuh karena lagu-lagu yang dibawakan memiliki kisah personal di baliknya.

"Saya pribadi justru pecah gurung-gurung nangisnya pas di lagu Sayap, karena ini lagu-lagu yang seperti itu punya sisi personal ya di baliknya, kita denger tulis tentang kehidupan, tentang perjuangan, perjuangan Maliq," ucapnya.

"Jadi saat diceritakan oleh show dengan visual, dengan narasi yang pas, saya pribadi sangat kesentuh," ungkap Widi.

16 Lagu Maliq D'Essentials dalam Satu Pertunjukan

Dalam pertunjukan tersebut terdapat 16 lagu Maliq D'Essentials yang dirangkai dalam alur cerita musikal Senja Teduh Pelita.

Penyusunan lagu tersebut diakui Widi Puradiredja sepenuhnya dikurasi oleh Nuya Susantono selaku sutradara dan penulis naskah.

Menurut Widi, teater musikal Senja Teduh Pelita berhasil menyampaikan lagu-lagu Maliq D'Essentials di luar dari judul-judul hits tentang romansa.