Cara Mudah Kurangi Merkuri dalam Tuna Tanpa Bahan Kimia
Tuna tetap menjadi salah satu ikan paling populer di dunia, baik untuk salad, sandwich, maupun sushi.
Namun, kandungan merkuri sering membuat konsumen ragu, terutama bagi anak-anak dan ibu hamil.
>>> Penjual Shopee Kena Potongan Pajak 0,5% per Agustus 2026, Ini Cara Bebas Pajak
Kini, tim ilmuwan Swedia mengembangkan teknik inovatif yang mampu mengurangi konsentrasi merkuri dalam tuna hingga 35%—tanpa mengurangi nutrisi penting ikan tersebut.
Metode Sederhana dengan Sistein
Penelitian dari Universitas Ilmu Pertanian Swedia dan Universitas Teknologi Chalmers ini menggunakan larutan yang mengandung sistein, asam amino alami yang sudah ada dalam makanan berprotein tinggi.
Przemysław Strachowski, kimiawan di Chalmers, menjelaskan bahwa sistein dipilih karena kemampuannya mengikat merkuri. Proses ini memungkinkan merkuri berpindah dari ikan ke larutan dan kemudian dibuang.
Uji laboratorium menunjukkan pengurangan merkuri sebesar 25% hingga 35%. Semakin luas permukaan ikan yang terkena larutan, semakin banyak merkuri yang terekstraksi.
Integrasi Mudah dalam Proses Pengalengan
Keunggulan utama metode ini adalah kesederhanaannya. Teknik ini dapat langsung diintegrasikan ke dalam proses pengalengan tanpa perlu peralatan baru.
Menurut Strachowski, kemasan tetap aktif selama masa simpan produk, sehingga pengurangan merkuri berlangsung bertahap saat kaleng berada di rak.
>>> BenQ TH575i Proyektor Full HD 1080p dengan Dukungan 4K Resmi Diluncurkan
Tidak ada perubahan tampilan atau bau ikan, dan proses ekstraksi berlanjut hingga dua minggu.
Manfaat Gizi dan Keamanan Pangan
Tuna dikenal sebagai sumber nutrisi penting dalam diet Mediterania. Kekhawatiran utama selama ini adalah merkuri, terutama bagi kelompok rentan.
Mehdi Abdollahi, ilmuwan pangan di Chalmers, menekankan bahwa studi ini menunjukkan adanya alternatif untuk mengatasi kontaminasi merkuri, bukan hanya membatasi konsumsi.
Tujuannya adalah meningkatkan keamanan pangan dan kesehatan manusia.
Meski hasilnya menjanjikan, peneliti mengingatkan bahwa masih diperlukan penelitian lebih lanjut sebelum metode ini menjadi standar industri.
Saat ini mereka fokus pada penanganan merkuri yang terekstraksi dan penyempurnaan proses untuk skala besar.
>>> Ramalan 12 Shio Juli 2026: Karier, Keuangan, Asmara, dan Kesehatan
Ke depannya, metode ini diyakini dapat diterapkan di sektor pangan lain, memungkinkan pemanfaatan sumber daya pangan yang selama ini dibatasi oleh masalah kesehatan.
Update Terbaru
Dari Nonton Maradona di TV Desa, Kini Bubista Pimpin Cape Verde Lawan Argentina
Jumat / 03-07-2026, 20:49 WIB
Cara Dapat Penghasilan Tambahan 100 Ribu per Hari Lewat Aplikasi Resmi 2026
Jumat / 03-07-2026, 20:49 WIB
Daftar 10 Paspor Terkuat di Dunia 2026, Indonesia Peringkat 119
Jumat / 03-07-2026, 20:49 WIB
Ibu-ibu PNM Mekaar Jadi Wajah Perempuan Berdaya di Sensus Ekonomi 2026
Jumat / 03-07-2026, 20:49 WIB
PM Pakistan dan Menlu Afghanistan Melayat Jenazah Ali Khamenei
Jumat / 03-07-2026, 20:46 WIB
Pendaftaran Beta Tertutup Ketiga Monster Hunter Outlanders Dibuka, Uji Coba 7 Agustus
Jumat / 03-07-2026, 20:46 WIB
Pokémon Scarlet & Violet Kembali Hadirkan Hisuian Typhlosion 7-Star Tera Raid
Jumat / 03-07-2026, 20:46 WIB
Xiaomi Luncurkan Empat Produk Redmi Baru: Tablet, TWS, Smartwatch, dan Headphone
Jumat / 03-07-2026, 20:43 WIB
Kemdagri Siapkan Sanksi untuk Bupati Purwakarta Usai Lagu Kontroversial
Jumat / 03-07-2026, 20:43 WIB
Cek Geliat Ekonomi, Purbaya Sebar Anak Buah ke Sejumlah Pasar
Jumat / 03-07-2026, 20:43 WIB
Disney Perbarui Dragon Striker untuk Musim Kedua, Tayang Awal 2027
Jumat / 03-07-2026, 20:42 WIB
Pabrik Cakram PlayStation Terbesar Sony Mulai Beralih ke Mikro Optik
Jumat / 03-07-2026, 20:42 WIB
Meccha Chameleon Jadi Game Terlaris 2026, Penjualan Tembus 12,6 Juta Kopi
Jumat / 03-07-2026, 20:42 WIB
Shuhei Yoshida Kritik Steam Machine: Mahal dan Kinerja Biasa Saja
Jumat / 03-07-2026, 20:42 WIB






